Lihat ke Halaman Asli

Dian S. Hendroyono

TERVERIFIKASI

Life is a turning wheel

Menghindari Defisiensi Kalium pada Lansia

Diperbarui: 2 Juli 2022   09:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lansia yang sehat bisa berkegiatan seperti biasa. (Sumber: Philippe Leone/Unsplash)

Ketika seseorang sudah masuk kategori lansia, maka konsumsi makanan kadang berubah juga. Kebiasaan makan yang berubah bisa berbahaya, terutama dalam hal konsumsi kalium.

Sebagian besar lansia bergantung pada orang lain dalam hal menu makan. Atau ada juga lansia yang masih mampu mempersiapkan makannya sendiri, namun bisa jadi komposisinya tidak lengkap atau kurang.

Salah satu komponen penting untuk tubuh manusia adalah kalium, sebuah mineral esensial dan elektrolit yang ada di dalam setiap sel, organ, dan jaringan tubuh.

Sebagai elektrolit, kalium bisa mengatur impuls listrik di sekujur tubuh, menjaga komunikasi yang sehat antara syaraf dan otot. Kita membutuhkan kalium untuk mendapatkan fungsi syaraf yang normal, irama jantung, level energi yang dimiliki, dan fungsi otak. Itu hanya beberapa.

Sekarang, jika seorang lansia tidak teliti ketika mempersiapkan menu makannya, atau orang lain yang menemaninya juga tidak telaten dalam meneliti menu seperti apa yang cukup kalium, maka ia bisa mengalami defisiensi kalium atau hipokalemia. Lebih parah lagi, kalau lansia tidak mau makan apa pun.

Mengapa menu makan lansia harus diperhatikan? Sebab, kalium tidak bisa diproduksi di dalam tubuh, jadi harus didapatkan dari makanan.

Seperti apa ciri-ciri orang yang mengalami hipokalemia? Yang pertama, yang paling nyata, adalah tubuhnya lemah. Duduk pun tak mampu. Kadang sampai tak sadar. Lalu, tekanan darah yang sangat tinggi, saking tingginya sampai berada dalam level berbahaya. Gejala itu dibarengi dengan sakit kepala, napas pendek, kebingungan, dan kadang kehilangan penglihatan.

Menurut situs Evergreen Senior Living, setiap warga lansia butuh sedikitnya 4,7 gram kalium setiap hari. Mungkin untuk mereka yang masih muda, jumlah itu bisa dikumpulkan dengan mudah, namun tidak dengan lansia.

Untuk lansia, perubahan kondisi fisik yang terjadi memengaruhi level kalium di tubuh mereka. Fungsi ginjal juga menurun dengan semakin bertambahnya usia, sehingga pengeluaran urine juga meningkat.

Pada saat yang sama, mekanisme tubuh untuk penyerapan dan pengeluaran nutrien tidak lagi bekerja dengan baik, sehingga banyak kalium yang terbuang melalui urine.

Lalu, sebuah kondisi medis atau perubahan pada sistem pencernaan juga menyebabkan penyerapan kalium. Tambahan lagi, lansia biasanya mengonsumsi lebih banyak obat dibanding yang lebih muda. Obat-obat itu ada yang dapat mengubah level kalium di dalam tubuh.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline