Lihat ke Halaman Asli

Dian S. Hendroyono

TERVERIFIKASI

Life is a turning wheel

Open House Lebaran hingga Lewat Tengah Malam

Diperbarui: 5 Mei 2022   15:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi hidangan lebaran, mirip dengan yang kami sajikan saat open house sekian puluh tahun lalu. (Sumber: Shopbackdotcom)

Keluarga kami pernah tinggal di Jayapura, Papua mulai pertengahan 1982 hingga pertengahan 1986. Saya ingat kami berangkat ke Jayapura pada awal Juli 1982. Saat itu, Piala Dunia 1982 sedang digelar di Spanyol, yang dimulai pada 13 Juni dan kelar pada 11 Juli 1982.

Kami berangkat pada awal Juli, jauh sebelum final Piala Dunia 1982 berlangsung. Piala Dunia tahun itu adalah pertama kalinya saya paham sepak bola. Ketika itu saya baru lulus dari sekolah dasar.

Saya ingat kami berada di Bandara Kemayoran pukul 2 pagi, pesawat berangkat tiga jam kemudian. Dua kali transit, pertama di Makassar dan kemudian di Biak, sampailah kami di Bandara Sentani pada pukul 5 sore.

Saat itu, almarhum bapak ditugaskan di Jayapura. Saya belum berusia 13 tahun. Adik saya perempuan masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Sekarang, dia Kompasianer juga. Mungkin ada yang tahu, namanya Shinta Harini.

Adik saya paling kecil, laki-laki, baru berusia 7 bulan ketika boyongan ke Jayapura. Bapak sudah tinggal lebih dulu tinggal di Jayapura selama satu tahun, mempersiapkan isi rumah, mendaftar sekolah, dan sebagainya.

Saat itu bulan Ramadan. Pada tahun itu, 1 Syawal 1402 Hijriah jatuh pada 22 Juli 1982. Dan, bapak saya memutuskan bahwa itu saat yang tepat untuk melakukan open house, sekaligus memperkenalkan anggota keluarga kepada rekan-rekan kantor dan kolega lainnya.

Kami tinggal di sebuah area bernama Dok V Atas, di Jalan Sukarelawati. Sekarang, nama jalan itu sudah berubah menjadi Jalan Mapia. Di jalan itu, terletak rumah dinas yang kami tinggali. Rumah dinas itu dibuat khusus untuk jabatan yang dipegang bapak saat itu, selalu sama jabatannya sejak rumah itu dibangun pada zaman Belanda.

Anyway, pada Hari Raya Idul Fitri, yang pertama untuk kami di Papua (ketika itu Irian Jaya), kami salat Ied di lapangan Stadion Mandala. Letaknya dekat dari rumah. Sudah pasti, Stadion Mandala saat itu belum seperti saat ini.

Kelar salat, mulailah berdatangan segala jenis makanan khas Lebaran, yang dipesan dari salah satu rekan kantor bapak. Istri rekan kantor itu adalah juru masak. Ketupat, opor ayam, sambal goreng, entah apa lagi. Oh iya, ada telur pindang juga, yang merupakan favorit saya.

Terus terang, saya sama sekali tidak tahu bahwa bapak dan mama sudah merencanakan ada open house hari itu. Sebab, rumah sama sekali tidak diatur ulang mebel-mebelnya. Seperti sedia kala.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline