Lihat ke Halaman Asli

Dian S. Hendroyono

TERVERIFIKASI

Life is a turning wheel

Yang Penting Sehat, Berat Badan bukan Masalah

Diperbarui: 10 September 2021   08:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Harus melakukan program diet demi menurunkan berat badan? Tak perlu. (Sumber: Steve Buissinne/Pixabay)

Satu hal yang saya tahu pasti tentang berat badan adalah mereka tidak suka berlama-lama berada di bawah.

Coba saja, saya menurunkan berat badan dengan susah payah. Butuh waktu lama untuk bisa menurunkan 3 kg saja. Sukses sejenak, dan dalam waktu singkat sudah naik lagi itu berat badan. Lengah sedikit saja, merajalela lagi berat badan, tidak mau turun dengan sukarela.

Terus terang, saya sudah banyak bergerak setiap hari. Merawat mama, mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya, mengurus kucing-kucing. Tapi, berat badan tetap saja berat, tidak berubah.

Terakhir kali saya menimbang berat badan sekitar 2 bulan lalu, sebelum vaksinasi Covid-19 dosis pertama. Berat badan saya tigaperempat kwintal, sama seperti bulan-bulan sebelumnya.

Angka itu sama sekali tidak ideal jika dibandingkan dengan tinggi badan. Seharusnya berat badan ideal saya hanya setengah kwintal, yah ditambahlah sekitar 5 kg. Segitu saja, tidak boleh lebih.

Saya pernah berdebat dengan dokter internis yang merawat saya, gara-gara darah saya mengental. Seperti biasa, setiap kali akan periksa, saya harus cek lab dulu. Nah, hasilnya bisa ditebak, Kolesterol saya sih tidak tinggi. Normal, tapi ada satu komponen kolesterol, kolesterol jahat kalau tidak salah, yang melejit sendirian.

Pak dokter mengatakan saya harus olahraga untuk bisa menurunkan angka komponen kolesterol itu. Terus terang, saya bingung juga mencari waktu untuk olahraga setiap hari. Kegiatan di rumah sudah banyak sekali.

Saya bilang saja begini ke beliau: “Tapi dok, saya sudah bergerak terus setiap hari. Tidak pernah berhenti bergerak. Mungkin hanya ketika tidur saya diam. Selebihnya bergerak terus.”

Pak dokter menjawab: “Tetap saja itu bukan olahraga namanya. Kalau memang mengerjakan pekerjaan rumah tangga disebut olahraga, nanti peserta olimpiade adalah ibu-ibu rumah tangga, dong.”

Ih, pak dokter. Beda dong kita dengan atlet olimpiade.”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline