Lihat ke Halaman Asli

Ira Pranoto

Ibu Rumah Tangga

Cerita Rakyat | Teluk Awur 2

Diperbarui: 18 Mei 2021   13:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pantai Teluk Awur. (Dok. Pribadi)

Part 2. Akhir Kisah

Di ladang, Syekh Abdul Aziz sedang matun*. Rumput yang tumbuh liar di ladang atau di sawah kalau dibiarkan bisa merugikan tanaman. Dia akan merebut sari makanan yang dibutuhkan oleh tanaman. Lelaki santun itu tak menyadari kalau angin telah membawa pergi lukisan sang istri.

Saat akan minum, lelaki itu mencari gambar Rara Kuning, tapi yang dicari-cari tak nampak

"Perasaan gambar itu aku letakkan di sini. Kenapa nggak ada?" gumamnya.

Keinginan untuk memandang istrinya menyebabkan Syekh Abdul Aziz pulang. Kebiasaan lamanya pun terulang. Lelaki itu kembali ke rumah sebelum pekerjaan di ladang selesai.

Beberapa hari setelah hilangnya lukisan Rara Kuning, saat Syekh Abdul Aziz pulang dari ladang, tak dijumpainya sang istri di rumah. Sayuran yang belum selesai disiangi tergeletak di dapur. Kendil untuk menanak nasi masih nangkring di atas keren* yang sudah padam apinya, tapi nasi belum tanak benar.

Syekh Abdul Aziz keluar rumah, bertanya pada para tetangga. Mereka tidak mengetahui ke mana perginya Rara Kuning. Jarak rumah mereka berjauhan, lagi pula pada waktu itu, para tetangga juga sedang bekerja di ladang.

Tanpa putus asa Syekh Abdul Aziz mencari kekasih hatinya. Sampai akhirnya bertemu dengan lelaki yang tadi ditanya oleh patih tentang keberadaan lukisan Rara Kuning.

"Benar, prajurit kerajaan bertanya pada njenengan perihal istri saya?"

"Inggih, Syekh, saestu. Dalem mboten goroh." (Iya, Syekh, benar. Saya tidak bohong).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline