Lihat ke Halaman Asli

Inspirasiana

TERVERIFIKASI

Kompasianer Peduli Edukasi.

Sepotong Kisah Lama (III)

Diperbarui: 4 Oktober 2022   06:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sepotong kisah lama | Ilustrasi oleh Yoanna Yudith

Sebelum membaca lebih lanjut, silakan baca dua bagian sebelumnya:

Sepotong Kisah Lama (I)

Sepotong Kisah Lama (II)

Keduanya membisu. Lapangan basket yang lengang, pepohonan hijau yang rindang, dan bangku taman berwarna hijau, semua sabar menunggu terciptanya episode mereka yang kesekian.

Vava menghembuskan nafas berat. Ia tengadah, memandang langit biru di atasnya. Tadi, suara Ferry terdengar sangat tenang ketika menyampaikan salam dari seorang teman lamanya. Jo!

Ah, pemuda terkasih! Vava mengeluh dalam hati.

Betapa ia berbeda dengan Jo. Ia memang belum tahu sama sekali tentang masa lalu Jo dan Vava. Selama ini Vava merasa tak perlu menceritakannya. Bahkan kalau bisa, ia ingin menganggap kisah lama itu tak pernah ada. Tapi kini…

“Kau ingin tahu siapa Jo?” tanyanya kemudian.

“Kalau kau merasa aku perlu mengetahuinya.”

Vava menelan ludah. Ferry selalu begitu. Selalu lembut, penuh perhatian dan tak pernah memaksakan kehendaknya. Tapi itu justru membuat Vava tak sanggup merahasiakan apa pun terhadapnya.

Maka meluncurlah kata-kata itu, kisah lamanya dengan Jo, keluar dari mulutnya. Ferry mendengarkan dengan sabar, penuh perhatian. Padahal semalam ia telah mendengarkan kisah yang sama, dari mulut Jo.

“Aku mengerti perasaanmu,” katanya dengan lembut, setelah Vava selesai bercerita. “Wajar kalau waktu itu hatimu sakit dan kecewa. Tapi sakit hati itu akan menggerogoti jiwa jika kita terus-menerus memendamnya.”

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline