Lihat ke Halaman Asli

Indah Novita Dewi

TERVERIFIKASI

Hobi menulis dan membaca.

Omicron, Ancaman bagi Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Full, Anak Kembali Belajar Daring?

Diperbarui: 5 Desember 2021   02:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Omicron, Ancaman Bagi Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Full (Sumber: Pixabay)

Dari layar ponsel yang sibuk sekral sekrol turun naik, tiba-tiba sesuatu yang kecil melintas. Omicron. Saya berhenti dan membaca sekilas, apa itu omicron?

Omicron adalah nama varian baru dari virus corona. WHO (World Health Organization) alias organisasi kesehatan dunia, telah mengklasifikasikan varian omicron ini sebagai kategori tertinggi untuk varian virus corona terkait penularan, gejala penyakit, risiko infeksi ulang, dan efek vaksin. 

Mengapa namanya omicron, karena sejak Mei 2021, WHO telah mengeluarkan sistem penamaan sederhana untuk varian virus corona, berdasarkan urutan huruf alfabet yunani. O adalah huruf ke-15, melambangkan omicron yang merupakan varian virus yang ke-15. Arti seluruhnya dari omicron adalah nol kecil.

Menurut Dahlan Iskan dalam artikel yang ditulisnya, nama omicron juga telah digunakan dalam dunia astronomi yaitu untuk menamakan bintang ke-15 dalam jajaran kelompok perbintangan tertentu di luar angkasa.

Varian omicron ini sebenarnya baru ditemukan di awal November di Afrika Selatan, tepatnya pada 9 November 2021. Namun walaupun berumur sangat muda, si nol kecil ini tidak boleh disepelekan karena punya daya menggegerkan dunia. 

Seorang peneliti di Vienna, Austria mengatakan bahwa omicron 500 kali lebih menular daripada delta. Selama November si nol kecil sudah menyebabkan ledakan kasus Covid-19 di Afrika Selatan. Penyebaran omicron juga diperkirakan akan lebih cepat daripada delta. Pemerintah Indonesia telah bergerak cepat mengantisipasi dengan melakukan penolakan kunjungan dari negara-negara Afrika.

Saya geleng-geleng kepala dengan berita yang saya baca. Perasaan baru saja saya bernapas lega, karena anak-anak sudah mulai pembelajaran tatap muka di sekolah. Hampir dua tahun mereka menjadi generasi rebahan yang ogah gerak, malas olah raga dan malas bertemu orang. 

Pembelajaran tatap muka bagi saya adalah terbitnya mentari di tengah mendung. Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran jika diajarkan secara langsung oleh gurunya. Mereka juga lebih terdorong untuk konsentrasi fokus mendengarkan, lebih bersosialisasi dengan teman-temannya, dan lebih hidup. 

Hidup seperti saya semasa anak-anak, yang senang beraktivitas dengan teman. Senang bermain sampai lupa waktu dan dipanggil-panggil pulang oleh mama.

Omicron seolah kegelapan yang datang membayangi mentariku yang mulai bersinar. Jika ia datang, saya bayangkan anak-anak kembali full belajar daring, kembali ke dunia rebahan dan layar gadget. Saya kembali lebih banyak WFH. Bukan saya tidak suka WFH, bohong kalau tidak suka. Tapi saya lebih memilih WFO selamanya asal virus corona enyah dari muka bumi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline