Lihat ke Halaman Asli

Ikhwanul Farissa

Officer, Blogger, Conten Creator, Penulis, IT & Data Scientist & Analis, Model Fashion.

Cerdas Dalam Finansial, Pertama Jangan Kawin Dulu

Diperbarui: 4 September 2017   00:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: www.hipwee.com

Duh, duh, duh, duh......! Makin tinggi saja biaya hidup saat ini. Buktinya saja saat saya membeli daging untuk Hari Raya Qurban tahun ini. Tahun lalu harga dagingnya Rp. 150.000, sekarang naik menjadi Rp. 180.000. Belum lagi barang-barang yang lain, semua pada naik, sungguh sangat merisaukan deh. Rasanya semakin susah saja untuk berhemat, apalagi untuk menabung.

Semakin disadari deh, uang yang kita tabung ataupun yang kita simpan selama dan saat ini ternyata sudah mengalami penurunan nilai secara berkala setiap tahun. Sementara bunga bank tak bisa mengimbangi inflasi

Kalau seseorang yang menanggung sendiri biaya hidupnya pasti dapat merasakan bahwa biaya hidup saat ini sungguh mahal. Tidak peduli apakah memiliki uang atau tidak, tetapi biaya hidup saat ini tetap saja mahal. Bagi seseorang yang saat ini masih aktif bekerja dan mempunyai penghasilan, biaya hidup yang tinggi dan mahal mungkin masih dapat dibayar atau diatasi karena adanya penghasilan yang didapat dari hasil pekerjaan. Namun bagaimana jika kelak sudah tidak lagi bekerja? Ini yang perlu kita pikirkan dan apa yang perlu kita persiapkan sedari awal.

Pada saat masih bekerja saja biaya hidup sudah terasa cukup mahal, apalagi nanti ketika sudah tidak bekerja, di mana biaya hidup dipastikan akan jauh lebih mahal.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Jangan merasa silau deh atau meramalkan bahwa kehidupan kita akan tetap baik dan sukses selamanya seperti sekarang. Segala sesuatu bisa saja terjadi di tengah jalan, seperti sakit, musibah, kecelakaan, PHK, bangkrut, dll. Oleh karena itu, jangan tunda untuk memikirkan ini, selagi masih muda dan punya kemampuan, segeralah untuk mempersiapkan diri sedari awal dari sekarang.

Ayo....Menabung Secara Rutin

Menyisihkan sebagian uang dari penghasilan rutin untuk dimasukkan ke dalam tabungan adalah langkah yang cerdas. Ingat kata pepatah " Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit" Jadi lama-lama nantinya tabungan kita itu akan berkembang terus hingga mencapai jumlah yang besar lho!  Saya sudah membuktikannya sendiri. Dengan sabar saya menabung di Bank yang sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan menyisihkan sebagian pendapatan saya setiap bulan. Tiga sampai empat (3-4) tahun kemudian tabungan saya itu sudah dapat saya depositokan dan investasikan. 

Terkait deposito, saya sudah men-depositokan uang tabungan selama 6 (enam) bulan sejak Februari 2017 di salah satu bank syariah yang sudah dijamin oleh LPS. Saat jatuh tempo, saya pun memperpanjang kembali depositonya untuk 6 (enam) bulan ke depan, yang dapat diperpanjang secara otomatis (prinsip ARO). Karena pembagian keuntungan atau bagi hasil yang saya dapatkan jauh lebih besar dari tabungan biasa. Bagi hasil ini saya pikir menjadi suatu passive income buat saya yang terus mengalir ke rekening saya setiap bulan.

Kini saya memperpanjang kembali Deposito yang lakukan, karena bagi hasilnya bagus buat saya (dok pri).

Terkait investasi, saya bersyukur karena berhasil meng-investasikan uang tabungan dalam bentuk emas, tanah dan tabung gas elpiji. Saya tertarik melaksanakan investasi ini karena aman dan resikonya kecil, meskipun imbal hasil tidak terlalu besar namun patut disyukuri.

Mengenai Emas, saya ingat waktu itu tahun 2014, harga emas pernah turun atau terjun bebas seharga Rp 1.300.000 -- 1.400.000 per mayam. Dari situlah saya buru- buru untuk membeli emas saat itu, karena saya yakin, ini turunnya cuma sebentar, nanti harga emas pasti akan naik lagi. Ternyata memang benar, tak berselang lama harga emas kembali melonjak naik dengan harga seperti sekarang.

Kini saya juga punya emas perhiasan yang dijadikan aset investasi (dok pri).

Lalu Soal Tanah, saya ingat kata orang tua "jumlah penduduk semakin banyak, tapi jumlah tanah tidak bertambah". Dari situ saya menyakini jika harga tanah semaikin naik setiap tahun. Untuk itu tahun 2014 saya juga membeli sebidang tanah dari sorang tuan tanah yang sedang kepepet membutuhkan uang seluas 1.200 M2. Karena sang tuan sedang terdesak saat itu, maka dari harga Rp. 15.000.000 yang dipatok, menjadi Rp. 13.000.000 saat tawar menawar. Lokasinya juga cukup strategis dan saya pikir saya cukup beruntung.

Kini saya pun mempunyai sebidang tanah yang cocok dijadikan aset investasi (dok pri).

Begitu juga dengan perdagangan eceran gas elpiji, saat ini saya sedang menjalin kerja sama/kontrak kerja dengan salah seorang pemilik Pangkalan Gas LPG di daerah tempat tinggalku. Dengan akte notaris perjanjian dan pengakuan berhutang dengan jaminan dan surat kontrak kerja yang diketahui oleh kepala desa dan saksi-saksi, investasi yang saya jalankan ini aman dan memiliki kekuatan hukum. Jadi nggak ada yang namanya rasa takut dan tipu-tipu deh!
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline