Lihat ke Halaman Asli

Sepucuk Kisah dari Orang yang Tersesat Dijalan yang Benar

Diperbarui: 29 November 2020   11:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sepucuk kisah dari orang yang tersesat dijalan yang benar

Hidayah dari Allah Subhanahuwata'ala adalah hal yang yang dicari oleh setiap orang. Dan hal tersebut bahkan bagi kebanyak orang adalah hal yang banyak hilang dalam jati diri muslim pada zaman yang penuh banyak fitnah ini.

Namun jangan sampai dirimu menjadi orang yang berkata "saya sekarang ini karena kehendak saya" atau "saya menjadi seperti ini karena terpaksa oleh keadaan " dan masih banyak opini yang membuat diri semakin yakin bahwa hidayah Allah tidak akan datang menghampiri.

Ketika seseorang berdoa "Ya Allah saya ini hambamu yang penuh dosa... maka tunjunkanlah jalanmu karena didepan hambamu ini ada dua pilihan. Menjadi pribadi yang hanya memikirkan dunia dan akan sibuk dengan kenikmatan yang fana atau diri ini bisa mendapatkan pilihan terbaik yang telah didapat oleh para shalihin dengan menjabat sebagai salah seorang yang mengemban agamamu  islam ini". Maka hal yang tak terduga pun terjadi.

Allah Subhanahuwata'ala menjawab dengan kisah yang sangat indah. Allah membuat orang tersebut menjadi sosok yang sangat tidak terduga. Kisahnya berlanjut kepada hal yang akan membuat orang banyak menunggu kedatangan orang ini.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan alam semesta yang berkuasa atas segala sesuatu. Cerita orang itu diberikan bumbu-bumbu perubahan di awal. Perubahan yang mungkin bertentangan dengan yang selalu dia lakukan. Dimulai dengan pertanyaan pada saat datang bulan puasa saat orang-orang banyak melakukan pendekatan diri kepada Allah terbesit satu pertanyaan "kenapa saya bisa shalat lima waktu pada saat ramadhan dan tidak bisa shalat semua pada bulan yang lain?".

Masya Allah.. kadang rencana Allah tak terduga dengan memberikan hidayah tanpa perantara yang tidak terduga. Shalat pun adalah langkah pertama yang dia jalani ketika sudah menjadi hamba Allah yang taat. Keadaannya pun membuat dia berfikir "bisa kah saya bisa lebih dari itu?". Puasa senin dan kamis yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam menghiasi kesehariannya untuk selalu membuatnya lebih dekat dengan Allah.

Namun rasa yang terduga datang. Pilihan untuk menentukan masa depan datang menghampiri yang bisa merubah takdir tersebut. Apakah masih bisa untuk selalu melanjutkan tujuan dari hidayah yang datang tersebut atau menutup cahaya hidayah perlahan-lahan dengan pilihan yang kurang tepat.

Allah Subhanahuwata'alaa memilih untuk selalu hambanya mendekatkan diri kepada-Nya. Orang ini melanjutkan ke gerbang dimana dia memulai semuanya dari awal walupun ada keterlembatan yang dia rasa ketika membandingkan dirinya dengan orang --orang yang sudah menyelam didasar lautan ilmu.

Tempat yang banyak orang berubah yaitu pesantren dia lalui dengan langkah yang tidak mudah. Satu pertanyaan yang sangat membuatnya bingung dalam pelajaran kaidah Bahasa Arab "apa I'rabnya??". Jawaban untuk pertanyaan ini tidak bisa dia jawab. Jangankan menjawab pertanyaan itu bahkan membaca ayat Ilahi pun belum bisa dia lantunkan dengan lancar. Konflik batin dan kenyataan menjadikan dia berpikir, "kapan saya bisa menjadi orang yang bisa memahami ayat Allah?".

Dengan niat untuk mendapatkan cara untuk memahami ayat Allah subhanahuwata'alaa. Dia mencoba dan terus mencoba. Memerhatikan, mengulangi, jatuh dalam kesalahan, diulangi lagi, sampai akhirnya ada satu titik terang dimana dia membalas pertanyaan gurunya.."jawabannya ini"dengan jawaban yang benar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline