Lihat ke Halaman Asli

Transisi Demografi, Indonesia?

Diperbarui: 12 Desember 2017   11:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: James Cridland CC-BY-2.0

Kebanyakan orang beranggapan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan terus-menerus mengalami peningkatan hingga akhirnya terjadi kepadatan penduduk yang terlalu tinggi. Kita sama-sama ketahui, kepadatan penduduk yang terlalu tinggi akan menimbulkan banyak masalah. Asumsi ini menciptakan sebuah kepanikan yang banyak dirasakan masyarakat awam. Padahal, perubahan angka kelahiran dan kematian pada suatu negara atau bahkan dunia telah dijelaskan oleh teori transisi demografi, akhirnya sebuah negara akan mencapai kondisi dimana angka kelahiran dan kematian stabil rendah sehingga populasi juga akan stabil.

Transisi demografi merupakan sebuah perspektif atau teori kependudukan berupa model yang menjelaskan perubahan populasi dari waktu ke waktu. Model ini salah satunya dikemukakan oleh Warren Thompson dan Frank W. Notestein, para ahli demografi asal Amerika, pada pertengahan abad ke-20 dan selanjutnya dikembangkan oleh banyak tokoh lain. 

Perubahan yang terjadi dipercaya dipicu oleh terjadinya perkembangan pembangunan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan kondisi sosial yang menyebabkan berubahnya angka kelahiran, angka kematian, dan angka harapan hidup. Hingga pada akhirnya pada negara-negara yang telah dikatakan sangat maju akan mengalami angka kelahiran dan kematian rendah, mencerminkan populasi yang telah stabil.

Selanjutnya Carlos Paton Blacker mengembangkan model transisi demografi miliknya yang dibagi kepada lima tahapan. Tahap pertama yaitu tahap stabil tinggi dimana angka kelahiran dan kematian sama-sama tinggi, kedua yaitu tahap perkembangan awal dimana angka kelahiran masih tinggi namun angka kematian dengan cepat menurun, ketiga yaitu tahap perkembangan akhir dimana angka kelahiran mulai menurun dan angka kematian menurun secara lebih perlahan, keempat yaitu tahap stabil rendah dimana angka kelahiran dan angka kematian rendah, dan yang kelima yaitu tahap menurun dimana angka kelahiran lebih rendah dari angka kematian.

Indonesia telah mengalami perubahan yang cukup drastis pada angka kelahiran dan kematian dalam kurun 40 tahunan terakhir. Menurut data yang dihimpun BPS dan Central Intelligence Agency angka kelahiran Indonesia pada tahun 2012 mencapai angka 2,6 dan pada tahun 2017 telah mencapai angka rata-rata 2,11 kelahiran per wanita. Angka ini menurun jauh dari tahun 1971 dimana pada saat itu tercatat angka kelahiran mencapai rata-rata 5,61 kelahiran per wanita. Begitu juga dengan angka kematian Indonesia yang terwakilkan oleh angka kematian di bawah umur lima tahun. 

Pada tahun 2012 menurut data BPS angka kematian di bawah umur lima tahun tercatat pada angka 43 kematian per 1000 anak umur 0-4 tahun dalam satu tahun. Angka ini juga menurun jauh dari tahun 1971 yang mencapai angka 218 kematian. Bahkan, data dari Central Intelligence Agencypada tahun 2017 mencatat bahwa angka kematian kasar Indonesia mencapai angka 6,5 kematian per 1000 penduduk dalam satu tahun. Kedua angka ini sebenarnya sudah cukup baik karena sudah berada di bawah rata-rata angka kelahiran dunia yaitu 2,52 kelahiran per wanita dalam satu tahun dan rata-rata angka kematian dunia yaitu 7,73 kematian per 1000 penduduk dalam satu tahun.

Berdasarkan tren yang menurun dan besar dari kedua angka tersebut, dapat disimpulkan bahwa Indonesia kini telah berada pada tahap ketiga dari model transisi demografi yaitu tahap perkembangan akhir dimana angka kelahiran dan angka kematian sama-sama menurun dengan lebih lambat dan mengakibatkan pertumbuhan penduduk yang cenderung mulai rendah. Lalu, apa yang Indonesia butuhkan untuk dapat melanjutkan transisinya ke tahap berikutnya?

 Bila bercermin dengan negara-negara yang telah lebih maju, yaitu negara-negara yang telah berada pada tahap keempat dan kelima seperti Jerman, Jepang, Prancis, Inggris, atau negara-negara Skandinavia, angka kelahiran Indonesia masih berada di atasnya. Rata-rata angka kelahiran pada negara-negara tersebut berada pada rentang 1,5-2 kelahiran per wanita dalam satu tahun. Sedangkan pada angka kematian, Indonesia lebih rendah dari negara-negara tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa angka kelahiran Indonesialah yang masih menjadi poin pembeda.

Setidaknya ada dua hal yang menjadi sorotan dalam pengendalian angka kelahiran yaitu; perencanaan keluarga dan status wanita. Lalu apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk perencanaan keluarga dan bagaimana status wanita dalam pandangan masyarakat Indonesia? Pemerintah melalui BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) telah melakukan usaha-usaha perencanaan keluarga dengan program-programnya. 

Seperti dua anak cukup dan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) yang berupaya untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan kelahiran yang tidak diinginkan. Namun pada kenyataannya masih banyak kasus-kasus kehamilan yang tidak diinginkan dan pemahaman bahwa "banyak anak banyak rezeki" masih kerap kita jumpai.

Selanjutnya tentang status wanita, suatu hal yang bahkan terkadang masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Menurut publikasi "Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015" yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Indeks Pemberdayaan Gender negara kita tercatat pada angka 68,43. Angka ini di bawah Singapura (90,13), Brunei Darussalam (85,18), Malaysia (77,29), dan Thailand (72,19). Angka ini terbentuk dari komponen kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Sedangkan pada Indeks Ketimpangan Gender, Indonesia masih berada pada tiga urutan terendah dengan angka 0,500 dengan hanya membawahi Laos (0,534) dan Kamboja (0,505). 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline