Lihat ke Halaman Asli

Herry Mardianto

TERVERIFIKASI

Penulis

Museum Sonobudoyo dalam Kilauan Kenangan

Diperbarui: 4 Januari 2023   14:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cover Buku Museum Sonobudoyo Menembus Tabir Sejarah/Foto: dok. Museum Sonobudoyo

Koleksi Emas
Saya termasuk salah seorang yang beruntung karena saat mempersiapkan tulisan  berupa katalog dan buku mengenai koleksi unggulan Museum Sonobudoyo, sempat beberapa kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri puluhan benda koleksi emas Museum Sonobudoyo pada tahun 2007 dan  2009.

Koleksi tersebut diletakkan di ruang khusus (Ruang Emas) dengan pengamanan ketat: pintu besi dua lapis, kamera CCTV dan tidak sembarang orang boleh masuk.

Topeng Emas Nayan (ditemukan di wilayah Nayan, Yogyakarta) merupakan salah satu koleksi kebanggaan Museum Sonobudoyo, di samping beberapa koleksi emas lainnya seperti sirkam, cincin stempel, tangkai senjata, gelang, kalung, dan benda lainnya.

Topeng Emas/Foto: Buku Museum Sonobudoyo: Menembus Tabir Sejarah

Topeng emas dengan nomor inventaris 04.2.381  dipercaya sebagai bekal kubur atau sarana upacara  lain, dibuat dengan teknik  cetak langsung dan gores.  

Sebagai bekal kubur, topeng emas selain sebagai simbol perubahan identitas dari manusia biasa menjadi roh yang dipuja, juga sebagai lambang keabadian, dipercaya tetap hidup bersama masyarakat yang ditinggalkan.  

Koleksi emas, umumnya merupakan peninggalan zaman Mataram Kuno dan Majapahit berbahan emas,  termasuk  Topeng Emas Nayan, mahakarya topeng emas dengan bentuk utuh dan satu-satunya yang dimiliki museum di Indonesia.

Di samping topeng, terdapat koleksi emas lainnya berupa cincin stempel tipe Dieng berbentuk oval dengan hiasan huruf Pranegari. Di samping itu ada dua benda emas lainnya berupa sirkam dan kalung. 

Cincin Stempel, Kalung, dan Sirkam/Foto: dok. Museum Sonobudoyo

Sirkam terbuat dari kulit penyu, bagian kepala  dari emas  berpola hias ikan dan sepasang naga mengapit mutiara berlidah api. Sedangkan koleksi kalung dilengkapi liontin, bagian atas berhiaskan sepasang tangan yang seolah-olah memegang rantai. Liontin memiliki pola hias flora dilengkapi  beberapa batu permata sebagai pemanis.

Cerita mengenai kilau koleksi emas Museum Sonobudoto kini tinggal kenangan setelah terjadinya kasus pencurian di Ruang Emas pada bulan Agustus 2010. Koleksi yang raib mencapai puluhan   benda koleksi, umumnya merupakan peninggalan berbahan emas,  termasuk sasaran utamanya  Topeng Emas Nayan, mahakarya topeng emas dengan bentuk utuh dan  satu-satunya yang dimiliki museum di Indonesia.

Koleksi Unggulan Lainnya
Jika berkesempatan berkunjung ke Museum Sonobudoyo di Jalan Trikora, Yogyakarta, ada baiknya mencermati benda koleksi berupa Genta Kalasan, Patung Kepala Dewa, Zodiak Beker, Pasren, dan Wayang Beber.

Genta Kalasan/Foto: Buku Panduan Museum Sonobudoyo

Genta Kalasan, terbuat dari perunggu, ditemukan di sisi barat daya Candi Kalasan. Diperkirakan merupakan bagian dari vihara yang berada di kompleks Candi Kalasan. Benda ini merupakan salah satu genta gantung  terbesar yang pernah ditemukan. Genta  berfungsi sebagai alat pemanggil dewa dan mengusir roh jahat dalam prosesi upacara keagamaan.

Patung Kepala Dewa/Foto: Buku Panduan Museum Sonobudoyo

Patung Kepala Dewa ditemukan di Pathuk, Gunungkidul, Yogyakarta, pada tahun  1956. Terbuat dari bahan perunggu berlapis emas, diperkirakan sebagai lambang Dewa Budha.

Zodiak Beker/Foto: Buku Panduan Museum Sonobudoyo

Zodiak Beker berasal dari Tengger (Jawa Timur), berbentuk seperti limas terpancung. Dinding bagian luar berhiaskan  zodiak motif wayang maupun binatang, masing-masing berjumlah dua belas gambar. Terbuat dari bahan perunggu. Di bagian dasar terdapat hiasan dengan motif kura-kura, berangka tahun 1895.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline