Lihat ke Halaman Asli

Herry Gunawan

seorang pemuda yang peduli

Ini Ramadan, Stop Provokasi Terkait Pilpres 2019

Diperbarui: 8 Mei 2019   08:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Stop Hoaks dan Provokasi - kataindonesia.com

Kemarin (7 Mei 2019), berbagai media memberitakan pernyataan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan adanya indikasi provokasi oleh pihak-pihak yang tidak menerima hasil penghituangan suara pemilu 2019. Provokasi dan pembentukan opini tersebut massif di lakukan di media sosial. 

Ada upaya pembangunan opini bahwa pemerintah dan penyelenggara pemilu melakukan kecurangan. Ajakan people power pun terus mengemuka di dunia maya. Dan tahukah akibat dari semua ini? Jaringan teroris ingin memanfaatkan kondisi ini untuk melancarkan aksi bom bunuh diri. Terbukti, beberapa hari lalu jaringan JAD Lampung ditangkap, karena ingin memanfaatkan people power untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

Mari kita introspeksi. Jangan kotori bulan suci Ramadan ini dengan provokasi. Stop saling membenci, karena sebenarnya kita makhluk yang saling mengasihi. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, yang sangat membutuhkan pertolongan antar sesama. 

Tidak ada manusia di bumi ini yang mampu hidup seorang diri. Karena itulah, hentikan segala caci maki, segala provokasi, dan segala ajakan untuk melakukan pengerahan massa secara besar-besaran. Karena dampak dari pengerahan massa tersebut, bisa mengundang jaringan teroris untuk melakukan aksi teror. Jika hal ini benar terjadi, siapa yang disalahkan?

Ingat, kelompok teroris selalu mendompleng segala potensi konflik yang ada di sekitar kita. Konflik Posos misalnya. Jaringan teroris juga masuk didalamnya, karena konflik tersebut dianggap bagian dari konflik agama. 

Kini, narasi kebencian dan kebohongan yang muncul di media sosial seringkali menganggap kelompok agama mayoritas terancam, saatnya umat bergerak, dan segala macamnya. 

Padahal, kalau kita obyektif dan menggunakan logika, tidak ada kelompok mayoritas yang terancam. Yang terjadi justru sebaliknya. Kelompok minoritas yang justru seringkali masih terancam dengan berbagai macam alasan.

Karena provokasi, antar teman bisa memutuskan tali pertemanan. Karena kebencian dan kebohongan, kebenaran yang menjadi sesuatu yang salah. Dan karena provokasi, pemahaman yang salah bisa menjadi pemahaman  yang benar. 

Dan yang lebih mengerikan adalah keramahan yang selama ini menjadi karakter masyarakat, berubah menjadi amarah yang melahirkan persekusi ataupun tindakan teror seperti bom bunuh diri.

Proses pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung telah dilakukan. Masyarakat pun telah menentukan pilihannya. Sebentar lagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menetapkan presiden dan wakil presiden terpilih. 

Siapapun yang akan ditetapkan, semua orang harus terima. Jika memang ditemukan ada kecurangan, silahkan adukan sesuai mekanisme hukum yang berlaku. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline