Lihat ke Halaman Asli

Hans Pt

Swasta, Sejak Dahoeloe Kala

Sampai Kapan Kita Jalani Vaksinasi?

Diperbarui: 6 Februari 2023   18:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

kompas.com

Baru saja penulis mendapat kiriman status di WA bahwa puskesmas dekat rumah akan mengadakan vaksinasi pada hari Selasa dan Sabtu mendatang. Artinya penulis akan divaksin booster ke-2. Tidak masalah, sebab ini kan demi imunisasi terhadap virus corona yang sudah "menjajah" manusia sedunia sejak 2019 silam. Negeri kita baru heboh menjelang pertengahan tahun 2020 oleh banyaknya kasus yang terinveksi, dan tingginya angka kematian karena covid-19 itu.

Syukurlah para ilmuwan bisa menemukan vaksin untuk mengatasi wabah ini. Dan proses penemuan itu tidaklah singkat atau mudah. Setahun umat manusia menunggu dan menunggu soal hadirnya vaksin ini, di tengah simpang siur berita dan klaim di medsos tentang sudah ditemukannya obat atau vaksin.

Yang pasti awal tahun 2021 vaksin benar-benar sudah hadir di negeri kita, meski impor dari luar. Vaksinasi pun gencar dilakukan di tengah isu miring dan pro-kontra dari oknum-oknum yang tidak jelas apa maunya. Misalnya ada yang menghasut bahwa vaksin itu haram. Ada pula yang menakut-nakuti bahwa vaksin itu merupakan alat pihak-pihak tertentu (negara tertentu) untuk mengumpulkan data dari seluruh umat manusia. 

Bahkan ada isu bahwa vaksin itu bermuatan semacam "chip" yang akan mengcopy dan menyimpan seluruh data tentang orang-orang yang sudah divaksin. Nanti si pemilik vaksin akan menguasai dunia, mengontrol umat manusia lewat vaksin itu, dan sebagainya. Pokoknya seru dan mendebarkan, dan sekaligus membingungkan.

Tapi apapun kata orang, penulis tidak peduli. Tetap mantap ikut vaksinasi pertama sekitar April 2021, dan dilanjutkan vaksinasi kedua, dua minggu kemudian. Yang penting gratis. Sebab konon ada pula yang berbayar(?) namun resmi meski harganya cukup mahal, hampir Rp 1 jutaan.

Beberapa bulan kemudian datang lagi musim booster atau vaksin ketiga. Heran juga, padahal kita sudah berharap dan yakin bahwa vaksin cukup dua kali saja. Namun kok ada lagi yang ketiga, disebut booster? Tapi demi kesehatan dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kita tetap menjalaninya, sembari mengingatkan dan mendesak sanak keluarga di mana pun supaya ikut vaksinasi.

Lumayan, berkat vaksinasi yang sudah mencapai angka 70% secara nasional, kekebalan komunitas pun terjadi. Aturan-aturan yang membatasi gerak dan aktivitas warga satu per satu dipreteli, hingga Januari 2023 ini pemerintah mencabut aturan PPKM seluruhnya.

Penulis sendiri dan keluarga sudah bisa mudik di akhir tahun 2022, dalam rangka Natal dan Tahun Baru. Sangat menggembirakan mengingat acara rutin tahunan ini, sempat vakum dua tahun (2020 dan 2021).

Kini, di awal 2023, situasi tampaknya sudah kembali "normal"? Jalanan sudah macet, dan penulis terlambat tiba di tempat kerja. Situasinya sudah mirip di masa sebelum pandemi. Bedanya, hampir semua orang masih setia mengenakan masker. Di angkutan massal semacam KRL pun petugas senantiasa mengingatkan soal masker ini. Sementara yang namanya "jaga jarak" sudah tidak terlalu diabaikan lagi.

Meskipun itu artinya, bahwa covid-19 belum sepenuhnya musnah dari tengah-tengah kehidupan umat manusia sedunia. Bahkan di beberapa negara terdengar berita bahwa situasi kembali seram dan mencekam gara-gara covid-19? Oh, semoga tidak sampai terjadi di negeri kita. Rasanya kita tidak akan pernah rela atau siap apabila disuruh kembali lagi hidup seperti 2020 - 2021.

Tapi ketika ada lagi vaksin lanjutan atau booster ke-2, kita pun bertanya-tanya sampai sejauh mana efektitivitas vaksin-vaksin yang sudah kita dapatkan itu? Atau apakah covid-19 ini begitu bandel dan "sakti" sehingga manusia harus berkali-kali memperbaharui daya tahannya?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline