Lihat ke Halaman Asli

President Tweety Vs Sleepy Joe, Pertarungan Pilpres AS yang Semakin Memanas

Diperbarui: 7 Juli 2020   20:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: WSJ.com

Konvensi Partai dan Mereka yang tersisih

Kurang lebih dalam waktu sebulan lagi Partai Republik maupun Partai Demokrat akan menggelar Konvensi untuk menentukan Capres dan Cawapres masing-masing.  Sudah banyak sekali para calon kandidat dari masing-masing partai berguguran menjelang Konvensi. 

Sebut saja nama-nama besar calon kandidat partai demokrat seperti Multi-Milliader sekaligus walikota New York (2002-2014), Michael Bloomberg yang harus tersisih di awal pertarungan setelah menerima  hasil yang buruk pada Pemilihan Pendahuluan (Super Tuesday) pada tanggal  3 Maret 2020, karena hanya mengantongi hanya 49 delegasi dari total 1.357 delegasi.

Kemudian ada nama Veteran Pemilu AS , Bernie Sander yang berhasil menempel ketat saingannya Joe Biden, namun pada tanggal 13 april 2020 dia mengundurkan diri dan memberikan Endorsement politiknya kepad Biden.

Berbeda dengan Demokrat, persaingan pencalonan presiden Partai Republik sepenuhnya didominasi oleh Donald Trump. Trump terhitung mengantongi 2.043 delegasi dari total 2.044 delegasi.

Pada Konvensi yang akan digelar Agustus nanti diperkirakan tidak akan terlalu banyak kejutan. Partai Republik hampir pasti akan mengusung kembali  Trump dan Pence sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden mereka. 

Demikian juga Partai Demokrat hampir pasti mengusung Joe Biden sebagai Calon Presiden mereka. Sorotan media mungkin akan tertuju pada perebutan kursi Calon Wakil Presiden yang akan mendampingi Biden, karena sampai saat ini belum ada nama yang begitu mendominasi.

President Tweety vs  Sleepy Joe

Ketika berurusan dengan Pemilihan Presiden , Trump adalah "Sesuatu". Kita masih ingat betul ketika Trump secara mengejutkan memenangkan Pilpres AS tahun 2016. Padahal lawannya kala itu Hillary Clinton secara konsisten selalu unggul dalam setiap jejak pendapat. Lantas kenapa hal itu bisa terjadi ?

Menurut Alessandro Naia & Jrgen Maie (2018) dalam jurnalnya yang  berjudul "Perceived personality and campaign style of Hillary Clinton and Donald Trump" menyebutkan  bahwa Negative Campaign sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi Pilplres AS tahun 2016. Negative Campaign dijeskan oleh (Nai & Walters 2015) sebagai upaya saling mengkritis dan menyerang lawan, alih-alih mempromosikan diri sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline