Lihat ke Halaman Asli

Manusia Peliharaan Penguasa

Diperbarui: 24 Maret 2024   21:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sudah hampir 8 dekade lamanya, kita merasakan apa itu sebuah kemerdekaan. Sebuah kata yang sangat diperjuangkan oleh para pendiri negara kita dan juga leluhur kita dengan darah dan air mata mereka. Berbagai usaha telah mereka lakukan dengan segala pengorbanan yang telah korbankan. Keluarga, harta, bahkan nyawa mereka. Hingga pada akhirnya, perjuangan mereka tidaklah sia -- sia. Kematian mereka yang menyedihkan, menjadi sebuah bunga yang mekar di taman -- taman bunga di monumen perjuangan. Melanjutkan perjuangan mereka adalah tugas kita semua sebagai penerus bangsa dan negara ini.

Akan tetapi, dengan segala perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendiri negara dan juga leluhur kita, belum semua orang merasakan apa nikmat sebuah kemerdekaan itu sendiri. Dengan berbagai harapan yang tersimpan, namun jauh dari kenyataan, negara ini berjalan tertatih meratapi langkah yang pedih melewati serangkaian penderitaan yang tak berarti.

Ketika pendiri negara ini sudah tinggal nama, kini hanyalah penerus nya yang tersisa yang melanjutkan cita -- cita dan membawa beban perjuangan di atas tiap -- tiap pundak mereka. Namun sayangnya, terkadang para penerus perjuangan ini malah menyia -- nyiakan apa yang sudah menjadi harapan dan cita -- cita yang di impikan oleh seluruh penduduk di seantero negeri.

Mereka kini berubah menjadi seorang tiran yang berdiri di atas penderitaan rakyat yang harus menanggung beban yang berat. Banyak yang berusaha berteriak, namun sayang jeritan mereka tidak di dengar bagaikan angin yang berhembus pelan pada hari cerah ketika sedang terduduk tenang di bawah pohon rindang.

Seakan menghindari masalah, ia hanya berkata bahwa ia tidak tahu apa -- apa. Selalu berdalih dengan alasan jangan segalanya menanyakan apapun kepada dirinya. Suatu pengingkaran janji bahwa dia akan menjalankan kapabilitas nya sebagai seorang pemimpin yang mengayomi rakyatnya.

Kemiskinan merajalela, kehidupan serba sulit. Sudah berlangsung sejak dahulu, kini, mungkin hingga nanti.

Sebuah masalah datang ketika seseorang menawarkan diri nya sebagai orang yang dianggap sebagai juru selamat yang justru adalah keberlanjutan dari kegagalan dari penguasa sebelumnya. Para penguasa adalah satu -- satunya majikan yang sangat perhatian dengan lapisan kekejaman di dalamnya.

Kemiskinan adalah kandang yang sesuai bagi hewan peliharaannya itu. Karena dengan begitu, ia akan selalu dianggap sebagai sosok pahlawan yang turun dari langit. Untuk itu, mereka senang sekali memberikan ceramah pembodohan melalui media massa yang entah bagaimana bisa meracuni pikiran mereka.

Kemiskinan adalah ladang yang subur bagi para penguasa untuk bertahta. Dengan hanya memberikan mereka makan layaknya hewan ternak, sudah cukup bagi mereka untuk bisa berkuasa. Hanya orang -- orang yang berotak dangkal sajalah yang mampu menjalani kehidupan seperti ini. Hidup dengan kebodohan dan penuh dengan pembodohan. Tanpa adanya satupun usaha guna memperbaiki hidup mereka untuk menjadi lebih baik guna membuka wawasan mereka akan dunia yang luas ini.

Banyak dari mereka yang memilih makan ketimbang mendapatkan pendidikan. Aku tidak mengerti dengan pemikiran otak udang mereka yang mengatakan bahwa kami memerlukan makan guna menunjang waktu belajar kami agar kami tidak merasa kelaparan.

Mungkin menurut sebagian orang, berpikir politis atau memahami sedikit tentang ilmu politik bukanlah hal yang sangat penting. Toh, kita harus tetap bekerja guna menunjang kehidupan kita. Sebetulnya pernyataan itu sangatlah salah, karena pemimpin itu sendiri menyangkut akan kehidupan kita dalam bermasyarakat dan bernegara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline