Lihat ke Halaman Asli

Hadi Santoso

TERVERIFIKASI

Penulis. Jurnalis.

Agar Anak-anak Tidak "Hobi" Menyalahkan Orang Lain

Diperbarui: 3 Agustus 2019   17:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Penting untuk mengajari anak sedari kecil agar tidak mudah menyalahkan orang lain (Foto: guru.or.id)

Mana dari buku Paulo Coelho yang sudah sampean (Anda) baca? Apakah buku itu The Alchemist? Ataukah Onze Minutos alias Sebelas Menit, The Fifth Mountain alias Gunung Kelima, Hippie hingga Sang Penyihir dari Portobello?

Ataukah sampean memang punya banyak koleksi bukunya Coelho meski belum semuanya sempat dibaca. Nama novelis asal Brasil berusia 71 tahun ini memang sedang hits. 

Ia merupakan salah satu penulis yang mampu menaklukkan perbukuan internasional setelah karyanya paling banyak dibaca di dunia saat ini. Atas karya-karyanya, ia telah menerima sejumlah penghargaan internasional.

Namun, bukan karya-karya Coelho itu yang ingin saya ulas melalui tulisan ini. Saya tertarik dengan salah satu kutipan (quote) Coelho yang saya temukan tidak sengaja. Ketika saya menulis kata "blame quote" di mesin pencari Google, muncullah kutipan Coelho ini.

"It's always easy to blame others. You can spend your entire life blaming the world, but your success and failures are entirely your own responsibility".

Bila diterjemahkan bebas, maknanya kurang lebih: "Selalu mudah untuk menyalahkan orang lain. Anda dapat menghabiskan seluruh hidup Anda menyalahkan dunia, tetapi keberhasilan dan kegagalan Anda sepenuhnya adalah tanggung jawab Anda sendiri".

Sejak beberapa hari lalu, saya memang gemas ingin menulis tema "menyalahkan orang lain" ini. Gemas karena mengetahui ada beberapa orang di grup chatting ataupun di dunia nyata yang ternyata tidak memiliki "cermin untuk bercermin". Mereka tidak terbiasa mengintropeksi diri. Bisanya hanya melihat kesalahan orang lain.

Kita yang lebih suka menyalahkan orang lain tanpa mau introspeksi diri

Bahkan, kemarin pagi, saya cukup terkejut ketika membaca pesan WhatsApp dari seorang mahasiswa yang biasa bertemu di kelas. Ceritanya, si mahasiswa itu bertanya perihal dirinya mendapat nilai B untuk nilai akhir mata kuliah Dasar Jurnalistik yang saya ajar.

Dia merasa telah mengirimkan tulisan ke media dan dimuat seperti tugas Ujian Akhir Semester (UAS) yang saya berikan. Dia merasa seharusnya dirinya mendapat nilai A. Jadilah dia bertanya--lebih tepatnya protes mengapa hanya mendapat nilai B. "Nilai Dasar Jurnalistik saya kok B ya pak. Apakah benar nilai saya B pak?".

Saya lantas menjelaskan bahwa nilai akhir itu merupakan akumulasi dari beberapa nilai. Bukan hanya nilai tugas UAS. Namun, ada juga nilai kehadirannya di kelas selama perkuliahan, nilai keaktifannya selama mengikuti kuliah, nilai tugas dan juga nilai UTS.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline