Lihat ke Halaman Asli

Gurgur Manurung

TERVERIFIKASI

Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Mengapa Polisi Sulit Rasional?

Diperbarui: 1 September 2022   19:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: hukumonline.com 

 

Kasus Brigadir J  yang diduga   dibunuh  dengan sengaja oleh FS  di rumah  dinas FS merupakan puncak   cerita mengerikan di tubuh internal  polisi.  Bagaimana mungkin negara menggaji  polisi untuk membunuh polisi?  Kasus ini adalah tragedi  yang teramat memilukan.  Bagaimana bisa terjadi kasus yang mengerikan seperti  tewasnya brigadier J yang diduga  ditembak oleh pimpinannya?   Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dalam keseharian saya sering bertanya dalam hati, "masihkah ada yang suka  dengan polisi diluar polisi  atau keluarga polisi?"  Pertanyaan itu muncul karena pengalaman saya sejak kecil  sangat mengecewakan kepada polisi ditambah dengan cerita-cerita pengalaman teman  berhubungan dengan polisi.  Bahkan berulangkali  teman mengatakan  jangan lawan polisi.   Mengapa muncul saran agar jangan lawan polisi?   

Hal itu terjadi karena pada umumnya polisi ingin menang sendiri.  Arogansi  kekuasaan yang menonjol.   Rasanya prihatin jika membaca polisi itu melayani, melindungi, mengayomi  itu.  Jika membaca itu cukup mengernyitkan dahi saja.

Jika kita mengatakan polisi  tidak bagus, ada yang mengatakan bahwa tidak boleh digeneralisasi.   Tetapi pengalaman saya  berurusan dengan polisi sangat mengecewakan.   Tahun 97  saya tinggal di Pekanbaru,  ketika itu  sepeda motor saya menyenggol seorang ibu.    Ibu itu tersenggol motor saya karena  ibu itu tiba-tiba menyebrang jalan raya.  Kami pun berdamai dengan  ibu itu.   Kami saling memaafkan.

Kami sudah saling memaafkan, tiba-tiba seorang  separuh baya pakai jeket memanggil saya  agar bertanggung jawab.    Saya tidak tau apa lagi yang harus kupertanggungjawabkan.  Karena baju jeket pakaian sipil saya bertanya  anda siapa?  Beliau menjawab saya polisi. Mana identitas anda  sebagai polisi?  Dia  menodongkan pistol ke wajah saya.   Saya katakana bahwa pistol bukanlah  identitas polisi, sebab penjahat juga bisa saja punya pistol.

Ketika kami bertengkar dan pistol masih  di wajah saya, polisi itu  makin marah.  Dia mengajak saya ke kantor polisi dan melaporkan saya.  Ketika  beliau selesai melaporkan bahwa  saya menabrak  seorang ibu, saya juga melaporkan balik tentang apa yang dia lakukan kepada saya.  Polisi tidak mau menerima laporan saya yang kemudian  terjadi pertengkaran lagi. Tahun itu saya  baru lulus kuliah dan masih sangat idealis.

Malam itu sepeda motor saya di kantor polisi  padahal ibu yang tersenggol sudah pergi entah kemana. Tersenggolnya  cukup  pelan. Pertanyaan saya adalah  apakah polisi itu berhak melaporkan saya ke polisi?   Polisi itu menyuruh saya mencari ibu yang tersenggol itu. 

Bagaimana cara mencarinya?  Ibu itu kan  sudah berdamai dengan saya, masalahnya apa?  Dengan siapakah saya berperkara?   Saya marah-marah di kantor  polisi. Polisi yang menerima laporan ketika itu  mengatakan sebenarnya tidak layak  lapaoran itu tetapi karena teman, tidak enak jika tidak diterima.

Hingga tengah malam  saya meminta agar sepeda motor saya dibebaskan karena tidak ada persoalan.   Tetapi  polisi berjanji akan memberikan sepeda motor itu    dibebaskan besok harinya.  Karena janji itu maka saya pun pulang dengan kuatir juga sepeda motor saya tidak aman.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline