Lihat ke Halaman Asli

Kompasianer METTASIK

TERVERIFIKASI

Menulis itu Asyik, Berbagi Kebahagiaan dengan Cara Unik

Pohon Kueni Pembawa Kebahagiaan

Diperbarui: 8 September 2022   06:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pohon Kueni Pembawa Kebahagiaan (gambar: tribunnews.com, diolah pribadi)

Kita sering diingatkan oleh orang tua kita untuk terus belajar dan belajar tanpa memandang usia, baik muda maupun tua, belajarlah terus hingga akhir hayatmu.

Setelah kita menamatkan pendidikan formal, kita masih harus terus belajar dari universitas kehidupan yang lebih rumit, belajar dari masyarakat yang terdiri dari manusia dengan beraneka ragam sifat dan karakternya. Namun, terkadang kita juga bisa mendapatkan pelajaran dari makhluk lain yang ada di sekitar kita.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang pelajaran yang bisa kita petik dari makhluk lain yang ada di sekitar kita. Ayo tebak dulu sebelum meneruskan bacaannya! "Oh, oh, siapa dia?" Ternyata dia adalah sebatang pohon kueni.

Alkisah di negeri antah-berantah hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Sang putri sangat kikir dan tidak pernah mau berbagi apapun kepada siapapun.

Suatu hari di kala sang putri sedang berjalan-jalan di luar taman istana, menikmati indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran dan cerahnya cuaca pagi itu, tiba-tiba muncul seorang pengemis yang berpakaian compang-camping dan langsung mengacungkan tangan kanannya ke wajah sang putri.

Sang putri tersentak kaget dan dengan kasar menepis tangan sang pengemis. Namun sang pengemis tetap mengacungkan tangan kanannya, bahkan mencengkeram tangan kiri sang putri dengan kuat. Sang putri berteriak,"Tolong! Tolong!"

Aku  terbangun dari mimpiku. Ah, rupanya cuma mimpi! Aku bukan seorang putri yang cantik jelita, tetapi hanya seorang wanita awam yang menyandang predikat sebagai penyintas kanker nasofaring, he he he ...  

Setelah merenungkan mimpi tersebut, aku menyadari bahwa ada kesamaan antara aku dengan sang putri yaitu bahwa aku juga termasuk orang yang kurang suka berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

"Aku harus berubah!" kataku dalam hati. "Aku harus banyak berbuat kebajikan, dimulai dengan berdana. Apa yang bisa kulakukan?"

Sambil berpikir aku berjalan ke halaman belakang rumahku.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline