Lihat ke Halaman Asli

Dunia Menghadapi Isu Transisi Energi Berkelanjutan di G20

Diperbarui: 15 November 2022   11:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Indonesia Lestari. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Isu Transisi Energi Berkelanjutan, merupakan salah satu prioritas pada G20 Indonesia tahun 2022, di samping dua topik lainnya yakni Sistem Kesehatan Dunia serta Transformasi Ekonomi dan Digital. 

Masalah energi baru dan terbarukan (EBT) merupakan sebuah perubahan iklim global yang akan menuju fenomena yang disebut dengan global warming. Salah satu poin penyebab utama yang terlihat adalah tingginya emisi karbon yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam mendapatkan energi untuk kehidupan sehari-hari dan kebutuhan produksi atau industri. 

Maka dari itu, Transisi energi menjadi masalah yang sangat krusial dan urgen untuk dilakukan demi mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Transisi energi juga merupakan proses panjang yang harus dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim. 

Kesepakatan dalam transisi energi bertujuan untuk menuju ke titik yang sama yaitu pemanfaatan energi bersih yang terus meningkat. Negara-negara anggota G20 menyumbang sekitar 75% dari permintaan energi global. Sehingga, sangat penting untuk negara-negara G20 memegang tanggung jawab yang besar dan peran strategis dalam mendorong pemanfaatan energi bersih. 

Pada zaman sekarang, batubara, gas bumi, dan minyak bumi merupakan bahan bahan yang saat ini menjadi sumber energi untuk transportasi. Hal ini membuat kondisi yang saat ini terjadi yaitu, kondisi dimana harga gas dan batubara meroket dan juga disusul kenaikan harga minyak. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis energi di Eropa."perfect storm" merupakan sebuah kondisi dimana terjadi beberapa fenomena baru di kawasan eropa. 

Peristiwa pertama adalah keterbatasan pasokan dari Rusia, yang merupakan salah satu pemasok utama bagi Eropa. Kemudian ada juga peristiwa dimana musim panas terasa lebih panas dari biasanya dan kemungkinan akan merasakan musim dingin yang lebih dingin dari biasanya yang disebabkan oleh krisis energi di negara Inggris. Eropa Pun juga mempunyai aturan emisi CO2 yang semakin ketat sehingga menyebabkan harga karbon menjadi sangat tinggi.

Dalam upaya untuk menangani dan memulihkan turunya ekonomi dunia akibat masalah pemanasan global akibat perubahan iklim, pemerintah telah mencoba untuk membuat beberapa kebijakan yang tidak jauh dari aspirasi jangka panjang. 

Contohnya konsumsi energi ke depan perlu memperhatikan emisi karbon, menghentikan penggunaan energi fosil, Pembangunan ke depan diarahkan untuk mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, target penurunan emisi, dan kapasitas daya dukung sumber daya alam, dan juga pengenaan pajak karbon tidak serta merta yang akan dilakukan. 

Bahkan. semua negara pun juga mempunyai keharusan untuk melakukan transisi energi dimana saat ini dunia sedang memasuki masa transisi energi sejak dibuat Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tentang perubahan iklim. 

Kesepakatan ini dibentuk dengan tujuan untuk membatasi kenaikan suhu global sampai di angka minimum 1,5 Celcius, dan di bawah 2 Celsius, Mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca atau aktivitas yang serupa, dan juga guna untuk meminimalkan emisi gas serta mencapai target emisi net zero atau nol bersih. 

Pada KTT G20 nanti, akan terdapat tiga isu yang lebih spesifik mengenai transisi energi berkelanjutan yang akan dibahas. Menurut Tim Juru Bicara G20 Maudy Ayunda,  kita sebagai penerus bangsa perlu berpartisipasi secara aktif dalam mendukung tiga isu dalam transisi energi berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah yang akan membuat transisi energi berkelanjutan dapat segera terwujud. .

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline