Lihat ke Halaman Asli

NewK Oewien

Sapa-sapa Maya

Pemuda, Bercita-cita "Asal Bukan Petani" itu Keliru

Diperbarui: 20 Januari 2018   20:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber foto: pertanian.go.id

Walaupun tetap tidak yakin, memang bukan sebuah kemustahilan profesi yang menurut saya mulia, petani, akan semakin surut seiring perkembangan zaman.

Di daerah saya misalnya, kebanyakan pemuda telah membulatkan cita-citanya jadi "asal bukan petani". Tentu mendapat restu dari orang tua, mendorong malah. Alasannya macam-macam. Salah satu alasan utamanya tidak berpenghasilan. Sepertinya alasan itu hampir menyeluruh.

Menurut Kompasianer Junaidi Khab, untuk ke depannya kesejahteraan petani harus diprioritaskan. Karena disadari atau tidak petani adalah tulang punggung bangsa dan dunia.

Tapi, sepenting itu pun perannya kadang mereka tidak mendapat prioritas kesejahteraan. Hal itu harus menjadi renungan, terutama pemerintah. Menganggap petani hanya sebuah bayangan gelap dan semu dibanding profesi lain merupakan sebuah tindakan keliru.

Karena 90 persen kehidupan dunia bergantung pada petani. Maka ketika mereka enggan bertani, tentu akan muncul krisis pangan dan kelangkaan kebutuhan bahan pokok hidup manusia.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasioanal (Sakernas) tahun 2016, yang dibagikan Kompasianer Muhammad Aliem dari 118,14 juta penduduk yang bekerja 28,50 persennya adalah pemuda. Dari 33,7 juta pemuda tersebut hanya 23,03 persen saja menggeluti sektor pertanian dan yang paling besar adalah sektor jasa yaitu sebesar 51,94 persen.

Data tersebut menegaskan, jika tidak secepatnya ditemu-amalkan sebuah solusi bukan sebuah kemustahilan dalam waktu dekat bahwa negeri kita memang akan mengalami krisis pangan.

Hal yang selaras juga diuraikan Kompasianer Muhammad Aqiel, kepuhanan petani semakin nyata. Sebab perlahan SDM nya kian berkurang. Setiap tahunnya sekitar 466.800 petani memilih pensiun dari pertanian.

Alasan kurang modern dan terhitung melarat jadi penyulutnya. Hingga generasi muda lebih bermimpi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) ketimbang jadi petani, sekalipun keluaran dari pendidikan yang terfokus di bidang pertanian.

Aliem menambahkan, kalau sebenarnya masalah tersebut bisa diatasi, tentu jika pemerintah mengucurkan dana yang melimpah dan yang paling utamanya mengembalikan kedaulatan pangan pada petani bukan pihak swasta, serta melumpuhkan koorperasi pertanian, karena melanggar prinsip kedaulatan pangan dan bahkan memicu perubahan iklim.

Jika urbanisasi juga tidak terelakan, maka untuk mencegah kepunahan petani bisa memulai dengan Urban Farming, selain karena akan meningkatkan peran serta gernerasi muda juga dapat memotivasinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline