Lihat ke Halaman Asli

Gapey Sandy

TERVERIFIKASI

Kompasianer

"Art4All" Faber-Castell: Melahirkan Seni, Menginspirasi Kreasi (2)

Diperbarui: 5 Agustus 2017   07:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Salah satu karya lukis dan mewarnai menggunakan produk Faber Castell yang terpajang di salah satu dinding Pabrik Faber Castell di Cibitung. (Sumber: Faber Castell)

Dalam sessi tanya jawab, Yandramin Halim selaku Managing DirectorFaber-Castell International Indonesia mengungkap sisi bisnis korporasinya. Meski dunia dilanda era digitalisasi teknologi yang salah satu cirinya adalah semakin berkurangnya penggunaan alat-alat tulis, tetapi faktanya hal demikian tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja usaha Faber-Castell.

"Trend penjualan kami di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terus menunjukkan grafik peningkatan dan tetap baik. Kenapa? Karena di seluruh dunia ini, pendidikan masih terfokus pada penggunaan teknologi non-digital. Lagipula, teknologi digital tidak bisa memberikan rasa experience seperti yang natural. Era digital tidak bisa menggantikan sepenuhnya aktivitas fisik. Meskipun memang, era digital membawa sedikit dampak penurunan penjualan produk stationery dan office. Itu tidak bisa kita pungkiri," tuturnya.


Kondusifnya bisnis Faber-Castell antara lain didukung oleh kualitas dan keamanan produk yang tak dapat diragukan lagi. Ketentuan yang sangat penting adalah harus non-toxic, dengan diantaranya harus sesuai European Note (EN) Pasal 71, yang berkaitan dengan produk untuk anak-anak. Semua produk yang dibuat Faber-Castell tidak mengandung zat yang beracun bagi anak-anak.

"Pensil kita misalnya, kalaupun dikulum dan pewarnanya tertelan, tetap aman untuk anak-anak. Produk kita bukan untuk diminum, tetapi kalau terminum pun akan tetap aman bagi tubuh. Secara ekstrem,kami pernah meminum tinta di hadapan teman-teman media, dan terbukti memang aman. Sengaja kami berikan rasa pahit, agar anak-anak tidak suka mengulum dan menelannya. Apa yang kami lakukan adalah sebagai bentuk bahwa kami benar-benar menghasilkan produk yang non-toxic. Penghapus misalnya, terbuat dari karet dan plastik. Produk penghapus kami tidak ada yang mengandung phthalate. Ini adalah zat kimia agar supaya plastiknya menjadi lunak. Tapi hati-hati, phthalate ini dapat membahayakan kesehatan apabila sering-sering terhirup oleh hidung kita, dan menimbulkan efek negatif yakni perubahan hormonal," jelas Yandramin seraya memutarkan video ketika dirinya bersama sejumlah pimpinan Faber-Castell meminum tinta pewarna. "Terbukti aman dan tidak beracun".

PRODUK FABER CASTELL NON TOXIC. Yandramin Halim, Managing Director Faber Castell International Indonesia. (Foto: Gapey Sandy)

Tak hanya bagi tubuh, pabrik dan produk Faber-Castell juga ramah lingkungan. Yandramin menjelaskan, tinta yang dipergunakan Faber-Castell sebagai bahan baku, wajib menjalani proses treatment sebelum dibuang, ini sesuai aturan industrial yang wajib ditaati.

"Tinta berwarna yang akan kita buang harus dimurnikan terlebih dahulu warnanya, sehingga benar-benar bukan warna tinta semula lagi. Kami punya instalasi pengolah limbah yang antara lain memproses hasil cucian bahan baku tinta dengan menjalankan efek kimia, fisika juga biologi. Sehingga air bekas tinta yang dibuang tidak akan mengandung warna apalagi racun. Bahkan, sebelum dibuang, kami melewatkan terlebih dahulu air yang hendak dibuang tersebut pada akuarium berisi ikan, dan ternyata ikannya hidup terus," bangganya sambil memutarkan video "minum" tintaConnectorPen yang dimaksud.

Bukan hanya buangan tinta yang harus aman terhadap lingkungan, bahkan polusi suara atau tingkat kebisingan di pabrik Cibitung ini pun juga senantiasa diukur dan dikendalikan. "Tingkat polusi kebisingan pabrik kita pun diukur. Di pabrik kita, tidak ada suara, karena semua menggunakan elektrik, bukan hidrolik. Dampaknya, harga mesin produksi memang lebih mahal, tapi polusi suara dapat dihindari dan tingkat kebisingan terjaga dengan baik," ujarnya lagi.

Bicara pensil tentu bahan baku diantaranya adalah kayu yang berasal dari pohon. Bagaimana Faber-Castell membuktikan bahwa bisnisnya tidak melubangi "paru-paru dunia" dengan melakukan penebangan pohon sembarangan atau menggunduli hutan?

"Bahan baku kayu, kayunya sendiri harus berasal dari sumber yang mengantongi sertifikasi dari FSC (Forest Stewardship Council), sebuah Badan Internasional yang mensertifikasi bahwa kayu berasal dari hutan yang di-manage dengan baik, atau tidak sembarangan menebang dari hutan. Setiap tahun, akan diaudit oleh tim dari FSC yang didirikan pada 1993 dan berkantor pusat di Bonn, Jerman," urai Yandramin meyakinkan.

Yandramin Halim tengah menjawab pertanyaan peserta Kompasiana Visit Pabrik Faber Castell di Cibitung. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan segala keandalannya, tak pelak Faber-Castell semakin kokoh untuk mengawal setiap bakat seni sekaligus menginspirasi kreativitas. Inilah inti yang dimaksud Yandramin, Faber-Castell melakukan pengembangan bisnis sekaligus menghadirkan banyak manfaat bagi banyak orang. "Itulah alasan mengapa kami mengampanyekan Art4All, Seni Untuk Semua. Antara lain karena manfaat seni itu begitu banyak, diantaranya menimbulkan relaksasi, memacu kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri," ujar Yandramin.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline