Lihat ke Halaman Asli

Gaganawati Stegmann

TERVERIFIKASI

Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Serunya Street Art Festival di Blumberg, Jerman

Diperbarui: 16 Juli 2019   14:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok: Gana

Hari Minggu, 14 Agustus 2019. Lagi-lagi anak-anak minta ke Ranch, peternakan kuda yang lima menit dari rumah. Lhooo, bukannya sudah Jumat dan Sabtu ke sana? Nggak capek? Nggak takut bau? Aaaaa namanya anak-anak, ya gitu, deh. Cinta kudaaaaa.

Setelah mengantar mereka, kami pun mencari hiburan sendiri. Lah biasanya pergi bareng-bareng, ini cuma berdua. Kayak pacaran lagi, dong. Untung waktu mereka bayi sampai kanak-kanak,  waktu saya investasikan bersama mereka. Sampai kehilangan pekerjaan, kehilangan uang, kehilangan hobi dan kadang-kadang sampai kehilangan akal ....hahahaha.

Segera suami cari info dari internet. Ketemu sebuah festival tahunan yang menarik, nggak jauh dari tempat tinggal kami. Festival yang sudah beberapa kali kami kunjungi selama tinggal di Jerman. Yup, Blumberg street art festival! Bungkusssss.....

***

Kami pingsut, siapa yang harus nyetir ke sana?  Untungnya suami yang nyetir, hujan membuat saya paling malas memegang setang. Selama ini, saya hanya mau jadi copilot suami ketimbang nyetir. Hanya dalam keadaan genting saja, saya baru mau menjadi sopir atau jika tempat tujuan hanya radius 20-30 km dari rumah.  Sak nyukkkk.

Sekitar 40 menit, kami sudah sampai di sana. Hujan tiba-tiba berhenti. Kata orang Jerman; kalau malaikat jalan-jalan, matahari bersinar ceria. Eaaaaaa. Eh. Lahhh ... kok orang seperti ular naga panjangnya? Karena saya kecil, segera merangsek ke depan mencari tahu sebabnya. Jiahhhhh sekarang harus bayar tiket, makanya antri. Kembali di samping suami yang ikut antri, saya berbisik "Waduh, sekarang bayarrrrr. Dulu bukannya gratis? Untung kita berdua saja. Satu orang 4 euro. Kalau berempat kita sudah makan pizza."

"Aku cuma bawa 5 euro. Kamu punya 4 euro? Pakai kartu ATM pasti nggak bisa. Ngacungin kartu kredit di depan pejaga, kamu bisa disuruh pulang." Suami mengamati saya yang segera mendudah tas kulit bermotif batik dari Malioboro yang saya tenteng. Ketemu!

Kamipun bayar kontan dan diberi gelang kertas hijau sebagai tanda masuk festival kedelapan yang diselenggarakan oleh klub Blumberg GewerbeVerein e.V. itu. Si bapak yang masangin grogi. Gelangnya copot nggak mau nempel di lengan saya. Naaaahhh .. belum pernah ketemu Kompasianer, yaaaa? Jangan takut masuk blog, deh.

Wahai perempuan, engkau makhluk terindah 

Kaki-kaki kami segera bergegas menuju tengah-tengah di mana para pelukis menebarkan pesonanya di atas karpet aspal. Kapur khusus yang mahal harganya berserakan di mana-mana. Itu bukan kapur satu euroan yang biasa saya beli untuk anak-anak menggambar di aspal depan rumah. Mangkuk-mangkuk kecil berisi cat khusus dan kuasnya terlihat di sana-sini. 

Oiii. Dari lukisan kapur di atas jalanan Blumberg pada festival yang diikuti oleh peserta dari seluruh dunia seperti Jerman, Italia, Meksiko dan Bosnia itu, saya garisbawahi bahwa mereka banyak menampilkan sosok wanita. Sosok makhluk yang memiliki kelebihan dan kelemahannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline