Lihat ke Halaman Asli

Frando Nainggolan

Berkarya Tanpa Batas

Pertobatan dan Hidup Baru

Diperbarui: 10 Februari 2021   11:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Oleh : Frando Nainggolan

Pertobatan menandai suatu permulaan hidup baru, secara sadar bertekad membuang perilaku yang lama, yang berdosa menjadi perilaku yang baru. Pertobatan itu sendiri adalah sesuatu transisi yang radikal, yang secara dramatis merubah. Tidak seperti penyucian sendiri yang merupakan suatu proses.

Pertobatan itu memiliki dua makna kata yaitu; Perkataan yang pertama artinya menyesal, perkataan kedua berarti kembali, meninggalkan jalan yang dilalui, meninggalkan pekerjaan yang dijalankan. Memang inilah kedua unsur dari tobat, yaitu tahu, melihat bahwa hidupnya sekarang salah.

Di dalam Perjanjian Baru, juga ada dua perkataan bagi "tobat", yang pertama metanoia yang berarti pandangan tentang hidupnya sendiri berubah, dan yang kedua epistrophe yang artinya kembali, berputar, meninggalkan jalan sekarang (dosa) dan berniat untuk menjalankan hidup yang baru.

Pertobatan atau penyesalan dengan arti harafiah "mengubah pikiran", dalam konteks Alkitab mengacu pada perubahan pikiran mengenai dosa dan kejahatan. Tobat atau pertobatan adalah suatu proses yang berlangsung terus sampai mati.

Paulus menegaskan bahwa orang-orang yang mengikut Kristus dengan iman yang tulus dan sejati dapat diikut-sertakan kedalam kehidupan Kristus sendiri, dengan Kristus, maka berlakulah kehidupan manusia yang baru. Pertobatan adalah sebuah jalan masuk menuju Kerajan Allah. Sebagai sebuah jalan masuk, ada banyak langkah dan upaya yang bisa dilakukan oleh manusia untuk bertobat.

Salah satu langkah dan upaya yang besar pengaruhnya adalah puasa. Dengan berpuasa, manusia dapat memperbaiki diri dan membangun hidup menjadi lebih baik. Dengan demikian, manusia pada satu sisi dapat hidup dalam Kerajaan Allah dan pada sisi lain ia dapat pula memperluas wilayah Kerajaan Allah itu melalui cara hidup dan cara kerjanya setiap hari.

Pertobatan menjadi suatu tema penting dalam Kitab Suci. Pertobatan diseruhkan oleh para nabi sejak zaman Perjanjian Lama. Pertobatan adalah jawaban kongkret atas tawaran keselamatan Allah. Gereja mengajarkan bahwa kultus atau upacara keagamaan, termasuk sakramen-sakramen, tak bisa dipisahkan dengan sikap dan perbuatan sehari-hari. 

Keterkaitan ini tampak juga dalam perjanjian lama, termasuk dalam hal pertobatan. Pertobatan dalam Perjanjian Lama mengandung aspek yang berkaitan dengan batin serta sikap hidup atau perbuatan. Salah satu bentuk ungkapan pertobatan umat Israel adalah dengan melakukan ritus pertobatan. Israel mengenal hari pendamaian atau hari tobat yang disebut dengan Yom Kippur.

Di hari itu, Israel didamaikan dengan Allah dan diampuni dosanya. Dalam ritus tersebut, mereka bertobat dengan sepenuh hati, menyesali dosa, menyerahkan diri kepada perlindungan Allah, dan memperbaharui niat untuk kembali kepada Allah. Ada suatu tindakan yang melambangkan pertobatan, dalam kehidupan umat Allah pada konteks perjanjian lama yaitu; Berpuasa dan menyampaikan korban bakaran (Im 16).

Pada Hari Pendamaian, Allah menyuruh umat Israel untuk berpuasa dan menyampaikan korban bakaran di Kemah Pertemuan sebagai penghapus dosa. Puasa merupakan ungkapan kerendahan hati Dalam perkembangannya, puasa bisa bermakna kesedihan, kepasrahan, penyiksaan diri dan dikaitkan dengan amal kasih[1]

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline