Lihat ke Halaman Asli

Mengingat Hari di Tana Toraja

Diperbarui: 6 Agustus 2017   20:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menyusuri Kete Kesu (Dok. Pribadi)

Jika kamu menyenangi kegiatan travelling. Tak perlu jauh-jauh mencari. Di Sulawesi Pun ada lokasi yang sangat menakjubkan, tepatnya di Tana Toraja Ibukotanya Makale. Sebuah daerah kabupaten yang berada sebelah utara ibukota Provinsi Sul-sel, jaraknya kurang lebih 314 km dari kota Makassar, dapat ditempuh 7 -- 8 jam perjalanan.

Dengan ketinggian kawasan hingga 2500 m di atas permukaan laut, tentu mempunyai iklim yang berbeda. Tepat sekitar jam 10 malam memasuki kawasan Tana Toraja. Suasana udara malam terasa begitu berbeda dengan kota Makassar. Udara dingin, kian malam kian menusuk-nusuk ke tulang membawa saya larut menikmatnya. Dalam hitungan menit pun Kopi akan segera menemui titik kehangatannya. Setiap hari temperaturnya bervariasi 16C dimalam hari, 28C dini hari. Kabarnya temperatur udara yang dingin membuat hampir semua tempat penginapan tidak memasang penyejuk udara (AC) di kamar-kamar.

Sebagai daerah objek wisata andalan Sul-Sel, Toraja selalu tak pernah sepi untuk dikunjungi, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi  setiap orang yang pernah dan merasakan sentuhan lembutnya akan selalu meninggalkan bekas dibenak mereka. Begitupun dengan saya, separuh ingatan tentang suatu hari di Toraja rupanya masih saja tersimpan dan terasa begitu dekat. Walau sudah berjarak oleh waktu.

Di beberapa literatur yang saya baca menunjukkan kekentalan budaya Suku Toraja masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip budaya Nias. Kebudayaan itu menjadi satu kekayaan budaya dan masih di jaga hingga kini. Di beberapa lokasi wisata dapat kita saksikan, salah satu diantaranya seperti Kete Kesu: yang merupakan kumpulan barisan rumah Tongkonan dijadikan sebagai penyimpanan sementara jenazah sebelum dikuburkan. Selain itu, di bagian atas tebing kawasan Kete Kesu kita dapat menyaksikan kuburan batu yang di perkirakan berusia ratusan tahun lamanya.

Tak hanya di Kete Kesu di lokasi lain seperti di Londa, kita dapat menyaksikan hamparan tebing tinggi dibagian atasnya terdapat perkuburan, kawasan tersebut masuk dalam wilayah administratif Kab. Toraja Utara. Tradisi yang menguat di kalangan masyarakat Tana Toraja identik dengan berbagai upacara adat seperti; Rambu Solo,  Tradisi Ma'nene.

Disamping kekayaan adat istiadat, kondisi geografis wilayah Toraja menjadikan daerah ini asyik untuk dinikmati keindahan alamnya. Beberapa kerabat sayapun pernah menjelajahi kawasan wisata alam seperti Lolai, Ollon, Pango-pango, Puncak Sesean, Bukit Buntu Burake . Lolai Konon katanya di gelari sebagai "Negeri Di atas awan". Beberapa orang penting seperti Ibunda Presiden Jokowi pernah melakukan kunjungan di lokasi itu.

Lolai (Tribun.Toraja.com)

Melihat keindahan alam saya lalu merasa seperti ingin kembali menjelajahi lokasi-lokasi indah itu. Menikmati keindahan alam adalah sebentuk refleksi diri buat saya sembari memungut makna, menyimpan kenangan dalam tepian cerita kehidupan. Karena bagi saya setiap perjalanan selalu punya cerita, selalu punya bekas, dan selalu punya kekuatan untuk menguatkan kita menuju perjalanan yang selanjutnya.

Ketika sebagian daerah mengalami gempuran modernisasi dengan dalih perkembangan dan kemajuan. Toraja tetaplah seperti adanya, ia enggan untuk berpaling dari masa lalu. Masa lalu itulah menjadi warisan budaya serta kekayaan alam, meski terus dibekap oleh gempuran arus modernisasi. Tak ayal lalu terlintas pertanyaan dibenak saya; Apakah warisan budaya dan kekayaan alam ini akan terus terpelihara?

***

Pada tahun 2012 lalu, Lanskap Budaya Provinsi Bali ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Penetapan itu dilakukan sebagai usaha konservasi menyelamatkan warisan lanskap kultur budaya yang berada di Provinsi Bali. Konservasi demikian pun di lakukan untuk Tana Toraja, dengan mendaftarkan ke UNESCO pada tahun 2009 sebagai salah satu tempat konservasi peradaban budaya Proto Melayu Austronesia. 

Jauh lebih dari pada itu, saya berfikir penyelamatan budaya tak hanya dapat dilakukan dengan langkah yang normatif. Pendekatan sosial kepada masyarakat akan jauh lebih "mengena" karena itu sangat dekat dengan keseharian. Beberapa waktu lalu, tak luput dari perhatian kita. Terumbu karang kawasan wisata Raja Ampat hancur setelah tertabrak oleh sebuah kapal pesir. Mengingat kejadian itu saya sedikit menyimpan sedikit keresahan, jauh di balik promosi wisata yang di gembor-gemborkan tak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sangat merugikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline