Lihat ke Halaman Asli

Hai_Ly19

pelajar

Kebiasaan Sehari

Diperbarui: 30 Januari 2023   15:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Bulan purnama yang bersinar sempurna itu tetap tidak bisa mengusir kegelapan malam, walau sekarang malam-malam di sini sudah cukup terang dan mengusir kegelapan sebagian.

Lampu-lampu minyak dan obor hampir tidak akan di temukan di sini karena mereka telah digantikan oleh lampu-lampu neon kota metropolitan ini, di sebuah apartemen yang cukup dapat bersaing dengan gedung yang lain.

Apartemen ini berlantai enam puluh lima, di salah satu lantai tinggal lah seorang anak yang bernama Zay, apartemen ini berada di dekat kota, yang cukup membuat nyaman di sini adalah jarak apartemen dengan jalan yang terpaut belasan meter.

Karena jarak belasan meter itulah suara motor dan mobil yang berlalu-lalang tidak terlalu mengganggu penghuni apartemen itu, saat ini waktu sudah menunjukkan jam tiga lebih dua puluh tujuh menit. Dua menit pun berjalan.

Nit... nit... nit... nit... nit... nit

Benda berbentuk balok berwarna biru dan hitam dengan angka 03.30 yang tertera di benda itu berbunyi, benda itu bertugas membangunkan pemiliknya yaitu Zay, setelah mematikan alarm itu Zay langsung beranjak menuju kamar mandi.

Tak lama Zay berada di kamar mandi, hanya sekitar tiga menit saja setelah itu ia langsung kembali ke kamarnya, Zay pun shalat tahajud dan ber doa Zay menyiapkan peralatan sekolahnya, tepat setelah Zay selesai menata peralatan sekolahnya adzan shubuh berkumandang.

Tanpa babibu lagi Zay langsung berangkat ke masjid di dekat apartemennya Zay turun menggunakan lift, jarak masjid tidak terlalu jauh, jika berjalan kaki hanya butuh waktu satu menit.

Setelah kembali dari masjid Zay mengisi waktunya dengan memurajaah hafalannya, ia mengulang hafalannya hingga jam lima, setelah itu Zay mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Kegiatan selanjutnya ialah sarapan, Zay bersyukur masih bisa merasakan dan menikmati makanan yang dimasak oleh ibunya, Zay pun makan dengan lahap dan tidak menyisakan secuil nasi pun di piringnya agar tidak mubadzir sekaligus mendapatkan keberkahan dari makanannya.

Sebelum berangkat sekolah, sambil menunggu ibunya Zay menyempatkan diri untuk menghafal Al-Qur'an yang nantinya akan di setorkan di sekolah, Zay mennggu ibunya yang sedang mengeluarkan mobil dari parkiran apartemen.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline