Lihat ke Halaman Asli

Biasakan Bicara Terbuka

Diperbarui: 24 Juni 2015   17:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13628921051117117426

Kita perihatin dengan semakin banyaknya kasus pelecehan/kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak belakangan ini, tahun ke tahun terjadi peeningkatan yang sangat signifikan. Bahkan Arist Merdeka Sirait, ketua umum Komnas Pelindungan Anak (PA) mengakatakan kepada Kompas.com bahwa peristiwa ini seharusnya sudah masuk pada kategori darurat nasional (disini).

Dalam 2 tahun terakhir, peningkatan persentase kekerasan seksual terhadap anak meningkat sangat signifikan, hampir 20%. Data tahun 2010 yang diterima oleh Komnas PA dari 48% dari 2.400 kasus merupakan kekerasan seksual pada anak-anak. Kemudian tahun 2011, terjadi sedikit penurunan menjadi 42% dari 2.508, walaupun menurun tetapi jumlah laporan semakin meningkat. Dan pada tahun 2012, meningkat tajam menjadi 62% dari total 2.637 kasus merupakan kekerasan seksual terhadap anak-anak yang berupa sodomi, pemerkosaan, pencabulan, dan incest. Ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual merupakan kejahatan yang paling rentan menimpa anak-anak kita saat ini.

[caption id="attachment_231748" align="aligncenter" width="561" caption="Berita di BBC Indonesia"][/caption]

Fakta yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa kebanyakan pelaku kekerasan ini merupakan orang-orang yang dikenal baik oleh korban, bisa guru, tetangga, teman, bahkan saudara atau orang tuanya sendiri. Dan biasanya kekerasan ini baru diketahui setelah korban berkali-kali mengalami tindak kekerasan seksual. Si anak bungkan 1000 bahasa. Apapun alasan si anak untuk bungkam, baik diancam, diperdaya, dipengaruhi, atau alasan-alasan lainnya, kita memang harus akui keterbukaan anak-anak kita untuk berterus terang kepada orang tuanya masih kurang.

Ketidakterbukaan ini menjadi salah satu faktor yang membuat kasus ini semakin lama semakin memprihatinkan. Si pelaku bisa dengan mudah memanfaatkan celah ini untuk melakukan aksinya, bahkan berulang kali tanpa takut akan ketahuan.

Cara yang paling ampuh untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengajarkan anak untuk berbicara secara terbuka. Hal pertama yang perlu diketahui dan disadari oleh orang tua adalah bahwa kekerasan seksual pada anak-anak bisa terjadi dimanapun dan oleh siapapun, baik di dalam rumah maupun di luar. Oleh karena itu orang tua perlu membekali anak-anak pengetahuan mengenai kekerasan seksual ini karena para pakar meyakini bahwa anak-anak yang memiliki pengetahun ini sejak dini akan berpeluang besar mencegah hal ini terjadi pada dirinya.

Jika kita berbicara tentang kesiapan orang tua untuk membicakan masalah ini dengan anak, tidak ada orang tua yang benar-benar merasa siap untuk membicakan masalah ini apalagi budaya kita sendiri yang masih "malu-malu" soal masalah seksualitas. Tetapi perlu diingat bahwa semakin dini anak mengetahui masalah ini semakin besar kesempatan anak untuk terhindar menjadi korban kekejian kekerasan seksual ini. Pembicaran ini tentu saja disesuaikan dengan umur si anak, semakin muda si anak maka semakin sederhana juga cara penjelasannya.

Bagaimana cara melakukannya? Lakukan pembicaraan ini dengan positif. Pilihlah metode-motode pembicaraan sehari-hari yang mirip untuk menjelaskan masalah ini. Misalnya, ketika kita ingin menjelaskan bahaya-bahaya tindak kekerasan seksual, maka kita bisa analogikan dengan pembahasan tentang bahaya ketika menyeberang jalan. Karena pembicaraan mengenai kekerasan seksual ini termasuk yang kurang umum, selalu usahakan untuk menggabungkannya dengan kejadian-kejadian umum yang diketahui anak. Hal ini perlu agar si anak merasa "nyaman" dan "positif" menganai masalah ini. Jadi suatu saat, jika sesuatu yang tidak beras dirasa oleh si anak (mengalami kekerasan seksual), dia akan mudah membicarakannya dengan orang tuanya, sama seperti dengan polosnya si anak berbicara tentang temannya yang dinasehati gurunya karena tidak hati-hati ketika menyeberang jalan.

Orang tua juga perlu membekali anak-anak pengetahuan dasar tentang suksualitas, misalnya seperti organ-organ pribadi. Si anak perlu mengetahui bahwa organ-organ pribadi ini tidak boleh dijamah oleh sembarang orang. Untuk anak laki-laki seperti penis, buah zakar, dan anus sedang untuk anak wanita vagina, dada, dan anus. Dan usahakan untuk selalu menggunakan istilah yang sebenarnya untuk menamai alat kelamin (penis dan vagina). Karena jika kita menggunakan istilah pengganti yang banyak beredar di masyarakat, si anak bisa bingung dan akhirnya enggan dan malu membicarakan masalah ini.

Berkaitan dengan ini, dimulai dari rumah, si anak juga perlu dibekali pengetahuan tentang siapa saja orang dewasa atau seluruh pengguhi rumah yang lebih tua dari si anak yang bisa menjamah organ-organ pribadi si anak tersebut. Misalnya, jika si anak masih biasa dimandikan, maka beritahu si anak bahwa yang bisa menjamah organ pribadinya adalah orang-orang yang biasanya memandikan dan mengganti bajunya, apakah itu si ayah, ibu, nenek, atau pengasuh. Katakan secara jelas kepada anak agar dia tidak bingung.

Jadi, jika suatu hal terjadi pada si anak, misalnya di sekolah, baik guru maupun teman-temannya menjamah bagian pribadinya, si anak akan mengerti bahwa orang lain tersebut tidak benar menjamah organ pribadinya, sehingga si anak bisa terhindar dari kemungkinan terburuk dan terhindar dari kekerasan seksual. Dan si anak juga tidak akan malu lagi ketika membicakan pengalamannya tersebut kepada orang tuanya karena pada awalnya sudah ada diskusi positif antara anak dan orang tua.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline