Lihat ke Halaman Asli

Menilik Optimisme Ala Kalimantan Barat (Catatan Akhir)

Diperbarui: 6 Februari 2016   01:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Optimisme dalam Ketidakpastian, Dok Felix Kusmanto"][/caption]

Merajut asa di tengah zaman yang penuh dengan ketidakpastian seperti sekarang bukanlah perkara yang mudah, apa lagi jika kita hidup jauh dari hiruk pikuk ibu kota seperti Jakarta yang konsisten menawarkan kesempatan dan mimpi-mimpi yang gemilang. Bagi yang mampu beradaptasi, ia akan selamat dan tumbuh. Bagi yang tidak mampu, putus asa adalah hal yang lumrah. Menjadi apatis dan cenderung diam bukan tidak mungkin.

[caption caption="Ibu Sutami di Tugu Khatulistiwa, Dok Felix Kusmanto"]

[/caption]Namun demikian, rasa putus asa, sikap apatis dan prilaku diam tidak nampak sedikitpun di Kalimantan Barat, paling tidak, tidak nampak selama saya menjelajah rute Pontianak-Desa Saham-Ngabang-Entikong-Tayan-Pontianak saat kegiatan Datsun Risers Expedition – Etape 3 berlangsung. Dengan mobil Datsun GO+ Panca, saya bersama beberapa kompasianer lain blusukan selama 4 hari dan telah berkendara sejauh kurang lebih 600 KM, sekali lagi, tidak ada satupun situasi yang menggambarkan karakter negatif diatas.

Menariknya, yang kami temukan tidak lain hanyalah energi positif penuh optimisme dari setiap sosok yang saya temui selama di rute diatas. Hal ini sangat menarik mengingat masih banyaknya tantangan di sekitar mereka, sebut saja beberapa tantangannya seperti jaringan komunikasi yang terbatas, fasilitas umum yang terbatas, dana yang terbatas, rencana pembangunan jangka panjang yang masih setengah-setengah dan lain-lain.

Saya pribadi sangat tertarik untuk mengetahui mengapa mereka bersikap begitu positif dan sangat optimis.  

[caption caption="Meza saat latihan, dok Felix Kusmanto"]

[/caption]Untuk itu selama perjalanan ini saya mencoba mencatat beberapa perangai dasar dari setiap sosok-sosok ini. Kurang lebih ada enam perangai dasar yang menonjol dan saya rasa bisa dibilang (paling tidak untuk sementara) enam ini adalah khasnya (ala) Kalimantan barat. Enam perangai dasar itu adalah: menjalani sesuatu dengan dedikasi, jalani hidup apa adanya, gigih untuk belajar hal baru, tidak takut mencoba (keluar dari zona aman), berani bercita-cita tinggi dan berani ikut turun tangan (tidak hanya mengeluh dan mengutuk kegelapan).

Di artikel hari 1 saya dengan judul Blusukan Melihat Pesona Kota Khatulistiwa Dari Dekat saya menyebutkan beberapa sosok yang saya temui tanpa sengaja. Dua dari mereka Mereka adalah ibu Sutami dan Meza. Ibu Sutami adalah sosok yang apa adanya. Namun semangat dan inisiatifnya membawa perbedaan bagi ikon kota pontianak - Tugu Khatulistiwa ini. Tanpa dirinya dan dedikasinya tugu khatulistiwa tidak lebih dari tugu abstrak yang kosong. Sosok ibu Sutami yang bercerita dari atas anak tangga dan telur ayam peraganya yang memberi nilai lebih, membuat kami para risers menjadi bak anak kecil yang datang ke museum.

[caption caption="Pak Namin asal Jawa Barat, Dok Felix Kusmanto"]

[/caption]Sosok kedua dari hari pertama adalah adik kecil Meza yang baru berumur 9 tahun. Meza seperti yang saya pernah tulis adalah sosok termuda dalam latihan di Kraton Kadriyah. Bisa dibilang ia sangat antusias. Ia duduk di tengah antara kerabat-kerabat seniornya. Matanya melirik ke kiri dan kekanan. Melihat satu persatu alat yang dimainan dan mendengarkan irama-iramanya dengan seksama. Saat cerita kepada saya singkat, ia berkata sudah cukup lama latihan. Tidak susah menurutnya. Saat saya keluar kraton, tiba-tiba ia juga sudah di luar. Ia ingin tahu tentang kamera saya. Saya cerita sedikit apa yang bisa kamera kecil ini lakukan. Saya tunjukan foto dirinya saat duduk ditengah kerabatnya. Ia tersenyum malu. Ia melambai saat saya pamitan.

Satu sosok lagi dari hari pertama adalah pak Namin. Beliau tidak terliput di artikel hari 1. Beliau adalah transmigran dari Jawa Barat. Sudah ada di Pontianak sejak tahun 1984 untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Menurutnya usahanya terus berkembang. Ia bangga karena berhasil meski harus keluar dari tempat asalnya. Ia bangga tidak takut mencoba hal baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

[caption caption="Pak Panus dari Desa Saham, Dok Felix Kusmanto"]

[/caption]Di artikel hari 2 saya dengan judul Merajut Asa di Rumah Betang Panjang Saham saya menyebutkan satu sosok yang sangat menginspirasi. Ia adalah Bapak Panus, Sekdes Desa Saham. Desa yang terkenal dengan Rumah Betang Panjangnya yang kini sudah berumur 187 tahun dan masih didiami oleh 40an kepala keluarga. Disaat hampir semua bermata pencarian di ladang. Pak Panus memutuskan untuk turun tangan sebagai abdi negara. Menurutnya dengan menjad PNS, ia dapat membawa perubahan yang besar bagi desanya. Menurutnya dengan turun tangan langsung, suaranya dan suara masyarakat desanya akan lebih didengar. Bukti bahwa politik tidak selamanya buruk. Optimis!

Selama di Rumah Betang Panjang desa saham, saya juga berjumpa dengan banyak anak-anak desa saham. Mereka sangat bersemangat. Meski terbatas oleh berbagai halangan, mereka tidak berkecil hati. Mereka bercita-cita sebagai guru dan polisi. Menurutnya dengan menjadi guru, akan ada lebih banyak orang yang terdidik dan dengan menjadi polisi, situasi lingkungan akan menjadi sangat aman. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline