Lihat ke Halaman Asli

Fatmi Sunarya

TERVERIFIKASI

Bukan Pujangga

Lelaki dari Borneo

Diperbarui: 29 November 2021   10:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Iluatrasi Piqsels

Bandara Soetta suatu pagi,

Aku menarik masker rapat-rapat. Ini kali pertama terbang di masa pandemi. Dari bandara Sultan Thaha Jambi jam 06.00 wib dan tiba di Jakarta jam 07.20 wib. Aku menguap, sekarang baru jam 10.00 wib. Huh, cukup lama transit di Jakarta, jadwal untuk ke Semarang 12.30 wib.

Menunggu di kedai kopi mungkin cara mengusir kebosanan. Walau  secangkir kopi di bandara seharga sepuluh bungkus nasi rames di dusun, agak mahal tentunya. Hanya ada aku dan seorang lelaki yang duduk di seberang meja.

"Mari ngopi," tawaran sekedar basa basi padanya.

Dia hanya mengangguk berucap terima kasih. Dia berdiri, dan menghampiri mejaku.

"Sepi tanpa teman itu seperti ruang kosong di antara kata, boleh ya aku duduk disini," sapanya ramah.

Lelaki dengan jaket warna hijau gelap dengan mata setajam mata elang, membawa sebuah ransel dan buku ditangan.

"Mau terbang kemana?" tanyaku.
"Ada deh," katanya menggoda.
"Dari mana memangnya?"  
"Aku dari Borneo," nona. 

Kata nona, aku teringat pada seseorang yang jika aku mulai cerewet bertanya dan dia akan kesal sambil melontarkan kata nona. Iya, nona. Baik, nona. Betul sekali, nona.

Borneo?
Aku mulai mengingat pelajaran sekolah dasar dulu, oh Borneo adalah Kalimantan. Dia mulai bercerita tentang negerinya yang bernama Borneo. Pulau terbesar ketiga di dunia, alam yang kaya raya. Seribu sungai, hangatnya rumah panjang Lamin. Ada rasa bangga dan ironi. Negeri kaya, hutan yang mulai hilang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline