Lihat ke Halaman Asli

Jamalludin Rahmat

TERVERIFIKASI

HA HU HUM

Teopuitik (Puisi Berketuhanan)

Diperbarui: 19 Februari 2019   23:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(Illustrated from Pixabay.com)

Puisi ditulis bukanlah semata untuk memaparkan realitas atau berdalam-dalam di kata bermakna. Lebih jauh, ia sejatinya merupakan ketersingkapan (mukasyafah) ruh si manusia puisi untuk hadirkan rasa kebertuhanan di segenap aktivitas_ JR_

Dua Peristiwa Bermakna

Peristiwa pertama, saya membaca buku "Menyingkap Rahasia Yang Tersembunyi" karangan Annemarie Schimmel yang bercerita tentang rahasia yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa puisi para pencari Tuhan dan pecinta Tuhan (sufi). Timbul pertanyaan, apa hubungan puisi dengan Tuhan?. Itu terjadi tahun 2009.

Peristiwa kedua, saya duduk di bangku paling belakang melihat peserta membacakan puisi dalam lomba baca puisi di acara Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) STAIN Curup-sekarang jadi IAIN Curup-. Puisi dibacakan oleh mahasiswa dengan penekanan estetik beragam. Saya merasakan Tuhan hadir dengan bergetarnya hati dalam pejaman mata. Ini kejadian 2015.

Beberapa pertanyaan muncul di benak saya seputar puisi. Mengapa puisi masih ditulis dan dibaca? Apakah hubungan manusia dengan puisi dan apa pula hubungan puisi dengan Tuhan? Apa yang mengkhawatirkan sekarang adalah keterhubungan puisi dengan Tuhan dan keterhubungan puisi dengan masyarakat mulai memudar. 

Komitmen ketuhanan dan komitmen kemanusiaan puisi dipertanyakan. Sejauhmana puisi memberikan manfaat juga dipertanyakan seperti nasi yang dimakan orang kala lapar dan langsung membuat kenyang.

Diantara puisi dicipta untuk makanan ruh/jiwa manusia sehingga tersadarkan oleh kata-kata (puisi) serta melaparkan si manusia yang memerlukan kata-kata sebagai kekuatannya untuk bertahan hidup supaya menemukan makna-makna di setiap peristiwa hidup yang di alaminya.

Mengapa Puisi Masih Ditulis?

Atas dasar apa sebuah puisi lahir? Mengapa puisi serasa mempunyai kekuatan bagi sebagian orang menyelami maknanya, menuliskan dan membacanya kata perkata? Kenapa Alqur'an mampu menggeser puisi Arab jahiliyah yang mempesonakan masyarakat ketika itu? 

Puisi adalah penghayatan terdalam dan mencekam seluruh daya keinsanan si manusia yang dicarikan dan diungkapkan bentuknya dalam rupa kata-kata dengan merangkainya kepada manusia, alam, dan Tuhan. Atau puisi juga bermakna ungkapan perasaan atau pikiran dalam suatu bentuk yang menyatu dan utuh. Dengan lain kata, puisi adalah seni merangkai kata-kata, seni menciptakan keajaiban dalam berbahasa-mengutip Acep Zamzam Noor-.

Teopuitik: Puisi BerkeTuhanan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline