Lihat ke Halaman Asli

Senja Pun Datang Kepadaku

Diperbarui: 30 Desember 2017   22:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://medium.com/@fachryhabib/senja-pun-datang-kepadaku-2d6889bfb884

Lelah rasanya sejak pulang dari kampus siang tadi. Panas sekali udara pada saat matahari dititik paling tinggi siang ini. Tak sabar orang-orang menjadi berlari, capek berhenti, menunggu pun menjadi makan hati. Memang udara akhir-akhir ini semakin panas. Temperatur semakin meninggi, bahkan kampus yang terkenal hijau dengan "Green Campus" saja tak kuasa menahan Helios yang senang menyinari bumi.

Walaupun begitu, tetap ada waktu yang sangat nyaman bagiku untuk menikmati hari. Pukul 4.30--6.15 sore. Karena pada saat itu, suasana begitu nyaman, matahari tidak terlalu terik, angin berhembus sepoi-sepoi, dan tentunya orang-orang sekitar sudah tidak jenuh lagi. Tak mungkin bagiku melewati hari tanpa melalui 4.30--6.15 sore.

Setelah pulang kuliah, hanya tidur, duduk dan tidur lagi saja yang aku lakukan. Mahasiswa tingkat akhir, apa juga yang mau aku kerjakan. Hanya menunggu revisi dari dosen, dan ajakan teman saja yang tiba-tiba memintaku untuk menemani makan. Tetapi aku nyaman saja seperti itu, karena lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Tiba-tiba tercetus dipikiran untuk menghabiskan 4.30--6.15 sore tidak di kamar kos tetapi di sebuah kafe. Sepertinya ide yang menarik, pikirku.

Tak berpikir panjang, aku pun mengambil tas dan memasukkan buku yang sedang aku baca mengenai biografi perjuangan seorang pemberontak di negara amerika latin. Ada kafe baru di dekat tempat aku tinggal, menurut ulasan dari internet, sangat bagus sekali. Dengan ornamen klasik dan hampir semua furnitur kayunya juga dengan desain klasik, kafe tersebut langsung menjadi primadona warga kota kecil ini. Tentu saja akan ramai pikirku, tapi sudahlah, keramaian pun akan menjadi indah apabila dinikmati.

Aku mengambil tempat duduk dekat jendela yang langsung menghadap ke jalan. Sesuai perkiraan, ramai sekali kafe ini. Untuk dapat tempat duduk saja sudah beruntung. Minuman dan makanan yang aku pesan pun datang, sambil membaca buku yang aku bawa, terdengar juga perbincangan orang-orang sekitar.

"Presiden itu jangan seperti ini dong, masa mengurus yang besar saja, rakyat kecil bagaimana? kapan kita bisa maju?" ,

"Iya jangan pesimis lah, karena kita mahasiswa kita harus bisa membawa perubahan lebih baik di masa depan!", empat orang aktivis mahasiswa sedang berbincang mengenai negara dan idealisme mereka yang akan dipertahankan untuk menghadapi kehidupan. Tentu saja dengan jaket badan eksekutif mahasiswa kebanggaan mereka yang terpasang dibadannya.

"Iya bro, parah banget kan, anjing emang dia, gue udah bilang jangan make terus, eh gak mau dikasih tau sih", "terus lo apain?" "Ya anjir gak gue tolong lah, mati gue kena juga nanti, dia juga gak santai sih makenya" "HAHAHA bukan masalah santai, nyimpennya aja tolol dia"

Mahasiswa tingkat awal, baru pertama kali keluar rumah yang ditinggali bersama orang tua. Pertama kali mendapat uang untuk hidup sendiri. Bagi yang sudah terbiasa jauh dari orang tua menjadi semakin gila, yang baru pertama kali ikut menjadi gila. Barang berbahaya bagi hukum merupakan tantangan dan penerimaan status sosial bagi beberapa dari mereka.

Sudah sampai aku pada halaman 165, tepat pada Si Pemberontak tertangkap di tempat persembunyiannya, yaitu di pedalaman hutan ratusan kilometer dari kotanya. Ternyata salah satu orang kepercayaannya adalah agen pemerintah. Kecewa sekali Si Pemberontak, ingin rasanya membalas pengkhianatan itu, tetapi siapa yang akan membalas apabila esok si pemberontak sudah tak ada.

"Permisi, boleh saya duduk di sini?", suara seorang perempuan menanyakan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline