Lihat ke Halaman Asli

Kisah Nyata | Rindu di Dalam Kalbu (2-Habis)

Diperbarui: 9 Oktober 2017   10:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Alm. Bapak Yayat bin Ghozali|Dokumentasi pribadi

Kisah sebelumnya :Rindu di Dalam Kalbu (1)

Hubungan "anak" dan "orang tua" tersebut kami jalani hingga saya berumah tangga dan memiliki tiga orang anak. Apapun kesulitan yang saya hadapi dalam kehidupan selalu dibantu oleh beliau, beliau sering memberikan saran, tausiah dan ilmu-ilmu hikmah sebagai bekal untuk menghadapi segala cobaan dan ujian hidup. Saya merasakan begitu ringan (meski sesungguhnya berat) semua ujian dan cobaan hidup saat beliau ada, bukan hanya saya yang merasakan tapi juga teman-teman seperguruan pun merasakan hal yang sama.

Akhir cerita, ketika beliau mendapat kabar bahwa kakak kandung beliau meninggal (Rabu, 29 Juli 2015), saat itu sebenarnya saya ingin minta tolong kepada beliau, karena anak kedua saya sedang dirawat di rumah sakit, sebelum beliau berangkat ke kampung untuk mengurus jenazah kakaknya, beliau menghubungi saya melalui sambungan telepon, dalam percakapan tersebut beliau berpesan kepada saya untuk selalu tabah dan sabar dalam menjalankan hidup, pesan beliau yang lain adalah jangan sungkan-sungkan ke Allah, minta tolong hanya kepada Allah, minta obat hanya kepada Allah, minta apapun hanya kepada Allah.

Dengan salah satu muridnya|Dokumentasi pribadi

Pesan tersebut saya terima dan saya resapi, tidak ada firasat apapun terhadap apa yang disampaikan beliau, saya merasa saat itu bahwa pesan beliau hal yang wajar dan sudah biasa ketika saya sedang menghadapi cobaan. Hari itu juga kebetulan anak kedua saya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, saya dan istri serta anak kedua saya pulang ketika sore hari, cuaca sedang tidak bersahabat, hujan deras menemani kami selama perjalanan.

Sampai di rumah, saya merebahkan badan karena lelah dan tertidur pulas, hingga dering handphone berbunyi tepat jam lima subuh (Kamis, 30 Juli 2015) dan membuat saya terbangun, adik saya mengabarkan bahwa Mang Yayat sudah meninggal, bagai petir di pagi yang sangat buta, kabar itu membuat saya shock, seakan tidak percaya karena satu hari sebelumnya beliau menghubungi saya dan memberikan beberapa wejangan.

Saya mencoba menghubungi beberapa teman seperguruan, memastikan kebenaran kabar yang saya terima dari adik saya, dan "boom"... dada saya sesak, sekali lagi saya merasa tidak percaya, saya tepuk pipi saya dan berharap ini cuma mimpi. Kabar dari kampung yang saya terima bahwa beliau meninggal selepas pengajian untuk mendoakan kakaknya yang meninggal. Pagi itu juga, saya dan keluarga serta Bang Dodi (teman setia saya) berangkat ke kampung beliau, untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengucapkan terima kasih.

Proses pemakaman Beliau|Dokumentasi pribadi

Mang, tulisan ini dibuat dengan kesedihan yang mendalam. Berat sebenarnya membuat tulisan ini, tapi hati seperti bergejolak untuk mengutarakan seluruh isi di dalamnya bahwa tulisan ini adalah sebuah rasa kangen yang sangat besar dari seorang 'anak' dan juga dari seorang murid. Selamat jalan Mang, semoga kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa 'aafihi wa' fu'anhu

Jakarta, 6 Oktober 2017
Eddy Suryodipuro

Baca juga:

- Puisi | Habis Gelap Terbitlah Jiwa yang Tenang

- Puisi | Senja di Beranda Rumah Tua

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline