Lihat ke Halaman Asli

Melukis Senyum di Tanah Suci

Diperbarui: 28 Desember 2020   21:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Makkah, Februari 2020 - Kebahagiaan tersendiri bisa membawa kedua orang tua ke tempat ini (dokpri)

"Puncak kebahagiaan tertinggi adalah ketika kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita"

Apa impian terbesar dalam hidupmu?

Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh sang motivator beberapa tahun silam dalam sebuah seminar dalam rangka menyambut pergantian tahun di perusahaan tempatku bekerja. Pertanyaan sederhana, namun sarat makna.

Gerimis hati ini saat kutulis di secarik kertas kecil yang diberikan oleh panitia dengan kalimat  "mewujudkan kebahagiaan terbesar kedua orang tuaku untuk bisa pergi ke Mekkah", sebuah impian yang tertanam sejak SMA, yang merupakan sebuah ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan.

Perlahan kugulung  kertas kecil itu dan meletakkannya di sebuah toples kaca yang dinamakan "kotak harapan" oleh pihak panitia acara pada saat itu. Sebuah nama yang tepat tentunya, mengingat ratusan kalimat yang tertulis di sana masih sebatas proposal yang menunggu approval dari Tuhan. 

Acara seminar motivasi hari itu membawaku menoleh ke belakang, mengulik perjalanan hidup keluargaku yang tak mudah kami lalui.  

Keterbatasan ekonomi keluargaku memberikan pelajaran tentang kerasnya hidup. Sejak masih duduk di bangku SD, sepulang sekolah ataupun pada saat hari libur, aku dan kakakku membantu kedua orang tuaku bekerja di sawah.

Sengatan matahari tak kami hiraukan, derasnya hujan tak kami indahkan. Lumpur, bau pupuk kandang dan cacing tanah sudah bukan lagi menjadi hal yang menjijikkan. Disaat anak-anak yang lain sibuk menikmati masa kecilnya, kami sudah diajari berjuang melawan kerasnya hidup. 

Saat malam tiba, kami pun berjuang melawan rasa kantuk dan lelah untuk bisa tetap belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Selain menjadi petani, ayahku bekerja sebagai buruh penyadap air nira dengan sistem bagi hasil.

Aku kadang ikut ambil bagian untuk mencari daun-daun kering di kebun, ataupun mencari kayu bakar di gunung yang digunakan untuk memasak air nira menjadi gula jawa. Dengan segala keterbatasan yang ada, orang tuaku bertekad untuk bisa melihat kedua anaknya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Tak jarang gali lubang tutup lubang pun terpaksa dilakukan demi bisa melanjutkan kuliah. 

"Orangtua akan selalu memastikan bahwa kita mendapatkan yang terbaik, walaupun mereka harus memperoleh yang terburuk"

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline