Lihat ke Halaman Asli

Kembalinya Budaya Maritim di Bumi Nusantara

Diperbarui: 26 Juni 2018   19:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pict: Dok. Balai Konservasi Borobudur

Seberapa besar usaha kita untuk melupakan laut dan seberapa kuat kita ingin memunggungi laut, tapi kita tak bisa lari dari sejarah, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa pelaut. Kita adalah Bangsa Maritim.

Kejayaan Maritim

Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki masa-masa keemasan saat maritim menjadi garda depan bangsa ini. Saat budaya maritim menjadi pijakan utama dalam membangun kejayaan sebuah negeri. Torehan sejarah dan bukti-bukti arkeologis mendendangkan kejayaan maritim dan kemakmuran di bumi Nusantara.

Kerajaan Majapahit dengan semboyan kelautannya Jalesveva JayamaheDi Lautan Kita Jaya, telah berhasil menjadi kerajaan besar. Dalam Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, disebutkan bahwa daerah kekuasaan Majapahit meliputi sebagian besar pulau-pulau di Nusantara, Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Kerajaan Majapahit juga menjalin hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.

Pict:sejatahri.com

Begitu juga dengan kisah Pati Unus, Si Anak Muda Pemberani dari kerajaan Demak, dengan gagah perkasa membawa ribuan pasukan dan kapal-kapal besar untuk menyerang Portugis yang telah menduduki kawasan selat Malaka. Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa, menyatakan bahwa "Bangsa Portugis sendiri mengakui armada istimewa buatan Jawa ini."

Joao de Barros dalam Dcadas da sia (Dekade-dekade dari Asia), mengakui bahwa kapal-kapal Jawa waktu itu sungguh luar biasa. "Kapal itu merupakan kapal tempur yang amat besar... Pati Unus mengandalkannya sebagai benteng apung yang sesungguhnya (en modo de fortaleza) guna memblokir daerah sekeliling Malaka".

Pict: Lodewijcks, The First Dutch Expedition (Amsterdam, 1598). 1001indonesia.net

Situs Kapal Punjulharjo, Rembang Jawa tengah, dengan bukti arkeologis sebuah kapal kuno. Novida Abas sebagai Ketua Tim Peneliti menyatakan, berdasarkan hasil carbon dating diketahui berasal dari abad ke-7 M atau 1.300 tahun yang lalu. Dan menurut Prof. PY Manguin (Arkeolog Maritime dari EFEO Prancis) merupakan bukti bahwa Indonesia adalah Negara Maritim. Sezaman dengan awal perkembangan Mataram Kuno di Jawa dan awal masa Sriwijaya di Sumatra.

Pict: arkeologijawa.com

Dan tak kalah pentingnya, Hukum Laut Amanna Gappa. Hukum Laut Bugis Makassar yang menjadi Hukum Maritim Internasional. Kedigjayaan pelaut Bugis digambarkan dengan jelas dalam karya sastra La Galigo. Sebuah epik yang mengisahkan kebudayaan Bugis di abad ke-14 M.

Sumber: Grup Sempugi -- Hamsa Nunch

Kemunduran Maritim

Namun saat ini, sejarah hanyalah sebuah kisah, laut buat masyarakat Indonesia bagaikan "alam lain" yang berada jauh di luar sana. Suatu tempat yang misterius dan menyeramkan. Simbol kemiskinan dan keterbelakangan dari masyarakat pesisir. Jauh dari kata kemakmuran.

Berkaca dari sejarah, kemunduran dunia maritim di Indonesia berawal dari masuknya penjajah Eropa, khususnya Belanda ke bumi pertiwi ini. Dengan kekuatan militer dan armada niaganya, perlahan tapi pasti mereka melemahkan dan akhirnya menenggelamkan kejayaan kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline