Lihat ke Halaman Asli

Muthiah Alhasany

TERVERIFIKASI

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Menyambangi Sungai Citarum, Saksi Bisu Kisah Penculikan Bung Karno ke Rengasdengklok

Diperbarui: 16 Agustus 2018   14:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rumah sejarah Djiauw Kie Siong di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Jawa Barat, merupakan tempat persinggahan Bung Karno dan Hatta saat dibawa oleh generasi muda pada 16 agustus 2017.(kompas.com / Wahyu Adityo Prodjo)

Generasi muda sekarang tidak mengenal sejarah kemerdekaan. Banyak yang tidak tahu kisah penculikan Bung Karno dan Bung Hatta sebelum proklamasi kemerdekaan. Untuk itulah Museum Naskah Proklamasi bekerja sama dengan Komunitas Jelajah Budaya mengadakan napak tilas sejarah ke Rengasdengklok.

Sungai Citarum yang melintasi Karawang| Dokumentasi pribadi

Saya bersama tim dari Clickompasiana mengikuti napak tilas ini hari Minggu yang lalu. Ada dua bus besar yang telah disediakan pihak panitia. Kami diberi seragam kaos merah putih plus topi putih untuk perjalanan yang cukup panas. Ada sekitar 100 orang yang menjadi peserta napak tilas kali ini.

Rombongan napak tilas| Dokumentasi pribadi

Pak Rushdy Hoesein, sejarawan yang menjelaskan peristiwa Rengasdengklok itu dalam briefing sebelum kami berangkat. Dengan semangat berapi-api ia menceritakan kisah itu seperti baru saja mengalaminya kemarin. Para peserta mendengarkan dengan seksama.

Pak Rushdy| Dokumentasi pribadi

Saya adalah pemerhati sejarah, karena sejarah adalah bagian dari pembentukan jati diri bangsa Indonesia. Kebetulan pergaulan saya bersama para pelaku sejarah di masa lalu membuat saya memahami betapa beratnya perjuangan para pahlawan. Dan ini membuat saya semakin mencintai Indonesia.

Penculikan di sini bukan penculikan dalam arti kriminal, melainkan pengamanan tokoh nasional. Dalam hal ini sekelompok pemuda yang ingin mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa penculikan itu berawal dari perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua mengenai kapan waktu yang baik untuk memproklamasikan kemerdekaan. Golongan muda antara lain Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Sidik Kertapati, Darwis dan Suroto Kunto dll. Mereka juga dikenal sebagai kelompok Menteng 31.

Golongan tua seperti Bung Karno dan Bung Hatta dianggap terlalu kompromis kepada penjajah dan hanya menunggu kemerdekaan diberikan oleh Jepang. Para pemuda revolusioner tersebut lalu nekad menculik Bung Karno dan dibawa ke Rengasdengklok.

Chaerul Saleh membangunkan Bung Karno yang sedang tidur di kediamannya Jl. Pegangsaan Timur no.56. Saat itu pukul 04,00, Chaerul Saleh mengatakan bahwa keadaan sudah genting, keamanan di Jakarta tidak bisa ditanggung lagi oleh para pemuda.

Bung Karno tidak sempat mengecek kebenarannya, ia langsung dibawa ke Rengasdengklok, begitu pula dengan Bung Hatta. Desa Bojong yang berada di daerah Karawang ini menjadi pilihan karena sudah menjadi pusat gerakan anti fasis. Di sana kedatangan Bung Karno disambut oleh para pemuda PETA.

Kami turun dari bus dan berjalan kaki menuju rumah bersejarah tempat penyimpanan Bung Karno dan Bung Hatta. Cuaca sangat terik, tapi kami dipenuhi semangat 45. Suasana kampung Bojong tampak ceria dengan pernak pernik merah putih. Di samping gang telah digambar dengan wajah para tokoh pemuda. 

Bantaran Sungai Citarum| Dokumentasi pribadi

Rumah di tepi sungai Citarum

Semula Bung Karno akan ditempatkan di markas PETA, tetapi rencana itu berubah. Ketika mampir di rumah Djiauw Kie Siong yang tersembunyi dengan rimbunnya pepohononan di tepi sungai Citarum, rumah itu dianggap lebih cocok untuk "menyimpan" Bung Karno.

Rumah Rengasdengklok| Dokumentasi pribadi

Rumah itu kondisinya paling bagus di antara rumah-rumah lainnya di desa Bojong, Rengasdengklok. Djiauw Kiw Song adalah warga keturunan Tiong Hoa Hakka yang menjadi petani dan pedagang. Ia lahir sekitar tahun 1880 di Sambo, Karawang. Djiauw juga bergabung dengan PETA.

Rumah Djiauw terbuat dari kayu yang cukup kokoh. Kami bisa melihat bahwa rumah ini masih utuh walau telah dipindahkan dari tempat aslinya di tepi sungai Citarum. Aura Bung Karno masih sangat terasa di rumah itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline