Lihat ke Halaman Asli

Elida Sari

Elida Sari

Gerimis

Diperbarui: 28 September 2021   19:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Usaha, tekad, niat, dan keberanian yang dikumpulkannya seketika hancur hanya dengan kata "maaf". Jalanan di gang yang tadinya begitu ramai oleh pejalan kaki dan pengunjung kafe yang dibangun sepanjang jalan kini mulai lengah. 

Hujan mengguyur deras digang yang tadinya ingin dijadikan tempat paling bersejarah olehnya, malah menjadi tempat paling kelam untuknya. Wajahnya pucat muram seolah darahnya berhenti mengalir, seakan-akan nyawanya melayang meninggalkan raganya yang memprihatinkan. 

Dilangkahkan kakinya berteduh dibawah atap sebuah rumah yang ukurannya terbilang kecil namun tampak menawan dibangun menghadap ke gang yang banyak dilintasi pasangan. Dilipatkan kedua tangan didadanya termangu ia meratapi hujan yang mengguyur deras menyapu jalanan.

Dari kejauhan seseorang berlari mendekatinya.

"Saya boleh ya ikut numpang berteduh disini!" Tanya seorang perempuan padanya sambil mehalangi guyuran hujan diwajah dengan telapak tangannya.

Pikirannya yang masih kosong, tergagap-gagap menanggapi ucapan perempuan yang tampaknya berusia sekitar 20-an itu. "Heh, oh, eh I iya boleh".

Perempuan itu segera ikut berteduh lalu mengebaskan baju yang basah dan merapihkan pakaian, berdiri disebelahnya yang masih tenggelam dalam lamunannya.

Sudah sekitar lima menit mereka berteduh bersama didepan rumah mungil itu. Ia masih tenggelam dalam pikirannya nyawanya masih melesat menjauh entah kemana. 

Sedangkan perempuan yang berdiri di sebelahnya sudah mulai merasa bosan, sesekali ia memeluk tubuhnya sediri yang kedinginan oleh hembusan lembut angin yang ikut terbawa bersama hujan. 

Gadis itu yang mulai dirasuki kebosanan mengulurkan telapak tangannya menengadah hujan yang mengalir dari ujung atap kemudian tangannya ditarik kembali begitu pula dengan kakinya ia lakukan berulang ulang. Hingga ia lupa tentang kejenuhan dan mulai tersenyum gemas pada cipratan hujan karena ulahnya.

Hatinya benar-banar hancur hingga tak ada yang menarik baginya dunia ini. Tawa menggemaskan perempuan disebelahnya yang asik bermain dengan air hujan tak mampu menariknya dari perasaan kelam. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline