Lihat ke Halaman Asli

Jika Banjir Datang, Khawatir Trauma pada Ular Muncul Kembali

Diperbarui: 10 Februari 2021   09:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Banjir yang menggenangi kabupaten Hulu Sungai Utara Januari 2021 | Dokpri

Kali ini saya ingin menuliskan kembali tentang banjir yang kami alami, yaitu provinsi Kalimantan Selatan pada pertengahan bulan Januari 2021 lalu. Sebagaimana diketahui bahwa tidak hanya melanda kota Banjarmasin saja, namun juga sampai ke daerah hulu sungai.

Beberapa hari hujan lebat mengguyur kabupaten Hulu Sungai Utara. Akibatnya, debit air begitu cepat bertambah pada sore hari tanggal 17 Januari 2021. Saat itu saya pun sudah mengira bahwa air pada akhirnya masuk rumah kembali.

Walaupun rumah saya dekat dengan sungai, namun sudah dibuat tinggi, dengan tinggi tongkat/penyangga rumah sekitar 1,3 Meter dari permukaan tanah. Rata-rata rumah penduduk hulu sungai memang berupa rumah kayu berbentuk panggung.

Melihat kondisi sungai yang sudah meluap, dan debit air begitu cepat naik permenitnya, saya segera mengemasi barang-barang dan berkas penting untuk diamankan.

Begitu pula dengan beberapa wadah besar yang ada digunakan untuk menyimpan pakaian yang berasal dari isi lemari bagian bawah yang sudah dikeluarkan.

Pagi hari tanggal 18 Januari 2021, akhirnya benar juga dugaan saya. Air sudah menggenangi ruang tengah dengan ketinggian sekitar 8 cm. Tanpa pikir panjang, saya segera mengungsikan anak-anak ke tempat keluarga yang rumahnya lebih tinggi.

Namanya anak-anak. Masih saja sedikit trauma dengan banjir yang juga pernah melanda pertama kali tahun 2020 yang lalu. Betapa susahnya harus berangkat ke sekolah, dan harus terkurung di rumah tak bisa bermain lepas bersama teman-temannya, seperti petak umpet, main bola, main lompat tali dan lain sebagainya. Yang ada hanya bisa mandi dan main air saja.

Kembali ke cerita awal. Sore hari sekitar jam 14.00 WITA air sudah masuk menggenangi ruang kamar dan dapur yang posisi bangunannya lebih tinggi dari ruang tamu. Jadi seluruh bagian rumah saya terendam sudah. Aktifitas saya di rumah harus bergelut dengan kaki yang selalu berendam air.

Setelah asar, saya mulai bingung. Bagaimana nanti dengan tidur? Kebetulan tidak memiliki ranjang. Andai punya ranjang, tentu bisa digunakan untuk shalat, makan, dan tidur. Saya mulai berpikir bagaimana caranya supaya nyaman shalat, makan, dan tidur.

Akhirnya muncul ide untuk menyusun karung-karung berisi pakan ikan yang kebetulan baru dibeli sejumlah 20 karung untuk ikan patin yang saya pelihara. Segera disusun beberapa kayu ulin (kayu besi) dengan beberapa tingkat, kemudian bagian atas disusun karung-karung pakan ikan dengan rapi. Saya sangat bersyukur, akhirnya menjelang maghrib tugas menyusun karung sudah selesai. Permukaan air pun ternyata tampak kian tinggi.

Saat banjir, tentu tak banyak yang bisa dilakukan. Dalam diri saya tetap muncul rasa khawatir dengan anak-anak saya yang sudah diungsikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline