Lihat ke Halaman Asli

Efendi

Saya adalah mantan editor di Investor Daily, suka menulis, mengikuti tren dunia bisnis, ekonomi dan perbankan.

Berperilaku Cerdas, Tenang, dan Produktif, Kunci Sukses Hadapi Ketidakpastian

Diperbarui: 30 Juni 2020   00:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Do and Don't di saat menghadapi ketidakpastian.

Kita semua pasti setuju tidak ada seorang pun  di antara kita yang siap menghadapi pandemi Covid-19, termasuk saya sekalipun. Ada rasa cemas, waspada, khawatir, pada saat-saat awal Covid-19 ditemukan di Indonesia pada 2 Maret 2020. Saya pun demikian. Hingga kini perasaan itu tetap ada melihat tren pasien positif yang terus bertambah dan sampai tulisan ini dibuat angkanya sudah mencapai 55.092 orang.

Pandemi Covid-19 lantas mengubah cara hidup kita semua, baik kita sebagai makhluk sosial, makhluk ekonomi, maupun sebagai makhluk ciptaan. Sebagai makhluk sosial, jika sebelumnya kita terlalu 'cuek' dengan kebersihan dan kesehatan, kini kedua aspek itu sudah menjadi suatu keharusan. Jaga jarak fisik dan kerumunan adalah suatu hal yang juga harus mutlak dilakukan. Jika dulu, kita mengecilkan rasa empati sekarang rasa empati berperan penting.

Sebagai makhluk ekonomi, jika dulu kita terbiasa bekerja dan bekerja. Kini sudah berubah. Pandemi membuat kita harus bekerja dan belajar di rumah. Tentu saja bagi saya, perubahan ini membuat waktu terasa lebih banyak. Jika dulu waktu saya habis dua jam untuk perjalanan ke kantor dan dua jam perjalanan pulang, sekarang saya memiliki waktu lebih banyak. Tentu saja pertanyaan besarnya bagaimana kita memanfaatkan anugerah waktu yang lebih banyak ini? Tentu saja harus lebih produktif. Kerja cerdas istilahnya anak Zaman Now.

Perubahan juga tidak terhenti sampai di situ. Jika dulu kita terbiasa 'menghabiskan' uang sehabis gajian dengan membeli ini itu, kini kita sudah harus memikirkan rencana jangka panjang.

Rencana jangka panjang ini sudah seperti kita harus memakai masker. Jika dulu tidak wajib dan tidak peduli, kini sekarang sudah harus peduli dan menjadi kewajiban ketika membuka dompet dan mengeluarkan isinya.

Terakhir, sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita tentu harus semakin meningkatkan iman dan takwa. Ada banyak waktu yang kita miliki, tentu selain harus produktif, kita juga harus semakin bertakwa.

Do

Berbagai macam suasana ketidakpastian yang saya hadapi dalam beberapa kali kesempatan (sebut saja krisis 1998 ketika saya masih mahasiswa dan krisis 2008 ketika saya sudah bekerja) membuat saya memiliki prinsip-prinsip yang diambil dari hikmah berbagai macam situasi tersebut. Paling tidak, menurut saya, ada lima prinsip yang saya terus tetap pegang dan implementasikan hingga saat ini.

Pertama, tetaplah menabung. Prinsip ini menurut saya adalah salah satu pilar penting dalam menghadapi suasana ketidakpastian dan berperilaku cerdas. Dengan tetap menabung, meski sekecil apapun, berarti saya telah mampu menekan berbagai macam pengeluaran, sekaligus menekan perilaku konsumtif.

Dengan 'menabung', saya pun menghargai setiap lembar uang yang saya peroleh dari hasil kerja cerdas saya dalam sebulan, sekaligus mengantisipasi kondisi-kondisi yang tak diharapkan di masa mendatang. Ada dana 'siaga' yang saya miliki dan saya upayakan terus membesar.

Tidak usah khawatir dan panik lalu lantas menarik uang tabungan di bank. Untuk apa juga? Perilaku seperti itu malah berisiko tinggi mengundang kejahatan. Di perbankan, saya merasa uang yang disimpan lebih aman karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline