Lihat ke Halaman Asli

Edy Supriatna Syafei

TERVERIFIKASI

Penulis

"Sikat" Mafia Bola Tidak Cukup dengan Gertakan

Diperbarui: 21 Februari 2019   16:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi, mafia bola. Foto: eurosports.com

Sepanjang sejarah melawan mafia sepakbola, baru sekali ini nampak gregetnya bila dibandingkan beberapa tahun silam. Maaf, saya menggunakan kata sejarah mafia sepakbola atau bola lantaran peristiwanya bukan sekali ini.

Suap dan pengaturan skor hasil pertandingan sepakbola sudah sering terjadi di Tanah Air.

Sepakbola pernah dijadikan ajang resmi perjudian legal. Ingat zaman forecast. Saati itu atur skor pertandingan marak. Hanya saja, sorotan media saat itu tidak terlalu gencar.Pers dalam posisi di bawah kekuasan otoritar. Salah sedikit, dibredel penguasa. Warga atau rakyat akar rumput tengah dinina-bobokan dengan judi. Rakyat dibuat hidup dalam alam utopia.

Peristiwa atur skor pertandingan dan suap di sepakbola di negeri kita bisa diumpamakan seperti pemain bola yang tengah terserang influenza dan dipaksa turun ke lapangan. Pemain tengah sakit dipaksa merumput jelas dilakukan setengah hati. Pemain bertanding diiringi ingus meler di hidung, ditarik dengan nafas dan keluar lagi.

Artinya, musim atur skor dan suap dimainkan bagai tarik ulur ingus. Mafia bola bermain seperti itu. Di saat sorotan media massa berkurang, si mafia tampil. Kala awak media tak mengulas pertandingan dan teknis dan non teknis, nah di situlah mafia bola beroperasi lagi.

Jadi, jika ada suara berhembus dengan nada minor, mafia bola mengambil sikap tiarap. Tapi, bila tiba-tiba berita mengemuka ada tudingan suap, maka para mafia sepakbola cepat-cepat mengambil sikap berlindung. Lantas, para mafia mengeluarkan pernyataan jangan asal tuduh bila tak ada faktanya. Lalu disusul dengan kata ancaman, melaporkan orang yang mencurigainya ke polisi hingga tindakan kekerasan fisik. Maling teriak maling, gitu.

Suap dan hadirnya mafia sepakbola sejatinya bukan barang baru bagi organisasi sepakbola tertua di negeri ini. Jelas saja mafia sepakbola tidak sejalan dengan niat awal berdirinya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia atau PSSI yang didirikan Ir. Soeratin Sosrosoegondo pada 19 April 1930 di Yogyakarta.

PSSI hadir dimaksudkan untuk menguatkan nasionalisme dalam bingkai NKRI. Indonesia diharapkan dapat ambil bagian di setiap berbagai perhelatan sepakbola akbar melalui pamainnya yang kesohor pada zaman perjuangan. Mengapa demikian, karena sepakbola adalah olahraga yang paling digemari di planet bumi ini.

Lantas, ada pertanyaan yang selalu menggoda. Yaitu, mengapa sejak organisasi sepakbola hingga kini prestasi Indonesia tidak menggembirakan?

Prestasi kita memang pernah gemilang saat Olimpiade musim panas ke-16 diadakan pada 1956 di Melbourne, Australia. Di acara perhelatan olahraga akbar itu, tim sepakbila Indonesia menahan imbang Uni Soviet 0-0. Prestasi itu memang membanggakan, dan kini jadi cerita rakyat melegenda.

Lantas, ingatan kita dibawa kepada pemain beken seperti Maulwi Saelan (PSM Makassar), Paidjo (Persema), Chairuddin Siregar (Persija]), Mohamed Rashjid (PSMS Medan), M. Sidhi (Persebaya), Ramlan Yatim (PSMS), Kwee Kiat Sek (Persija), Tan Liong Houw (Persija), Rukma Sudjana (Persib), Kasmoeri, Thio Him Tjiang (Persija), Rusli Ramang (PSM), Ramli Yatim (PSMS), Mohammad Djamiaat Dhalhar (Persija), Ashari Danu (PSIS), Ade Dana (Persiob), Aang Witarsa (Persib) dan kapten tim, Achmad Arifin (PSP Padang), Phwa Sian Liong (Persebaya), dan Jasrin Jusron (PSIS).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline