Lihat ke Halaman Asli

Edy Supriatna Syafei

TERVERIFIKASI

Penulis

Cerpen | Suara Hati di Tanah Suci

Diperbarui: 30 November 2018   22:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mina dalam kemasan romantis. Foto | Pixabay

Jeddah terasa panas. Ruang kamar terasa penat, ditambah lagi tidak ada rasa ngantuk. Tiba-tiba aku rindu suara kodok, suara jangkrik mengerik, suara anjing melolong.

Kuingat, isteriku tercinta tak suka suara kodok. Untung aku tak ngorok dan tak juluki sebagai punya perilaku kodok.

Di Jeddah, malam itu, kudengar suara klakson mobil orang kaya warga setempat yang tak diurus. Tengah malam alarm mobilnya tetap bunyi, tak ada yang mematikan. Tak ada petugas keamanan yang peduli memanggil pemilik mobil mewah untuk mematikan alarmnya.

Mobil tergeletak di tepi jalan. Dibiarkan ditinggal pemiliknya. Tak ada yang peduli, polisi pun membiarkannya.

Di tengah bisingnya alarm mobil, pada Rabu malam itu, kuingin isteri tercintaku mendengar bisikan hatiku. Aku ingin mengatakan berniat puasa, puasa sunnat hari Kamis. Sudah lama kegiatan spritual ini tak kulakukan. Kegiatan ibadah yang membawa manfaat bagi kesehatan dan memiliki fadilah tinggi.

Tiba-tiba ada rasa takut isteriku memanggilku gederuwo. Sebutan mahluk halus itu muncul jauh sebelum Pak Joko Widodo mempopulerkannya terkait lawan politiknya yang mengangkat isu menakutkan.

Kutakut isteriku tercinta memanggilku ganesa alias gajah seperti puteraku yang gemuk. Kutakut isteriku tercinta memanggilku si loyo. Aku ingin sehat, ingin kuat mencangkul siang malam di ladang subur, mencari nafkah dan keridhoan Allah.

Kini aku merasa sudah gemuk. Mungkin terlalu banyak tidur atau kerjanya makan tidur sebagai petugas haji karena makanannya banyak mengandung kolesterol.

Ketika aku hendak pergi tugas sebagai petugas, tercatat raport kesehatan hasil pemeriksaan sebuah labolatorium. Ada dua angka merah, yaitu, kolesterol dan asam urat lebih tinggi dari angka normal. Berapa angka normal keduanya, tak ingat aku. Tipis, rasanya dari angka normal.

Isteriku tercinta. Kau lebih tahu tentang kondisi negeri Arab. Sebab, kau lebih dahulu mengetahuinya lantaran pernah menunaikan ibadah haji jauh sebelum aku menikmati gersangnya Arab Saudi. Kau pula pernah menginjakkan kaki di tanah Haram beberapa tahun silam.

Jadi, untuk ini, aku tak perlu melapor terlalu banyak. Namun kuingin kau tahu, di pandanganku, orang Arab belum berlaku adil terhadap pendatang. Sebagai negara kaya, harusnya bisa berbuat membantu negara muslim yang masih miskin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline