Lihat ke Halaman Asli

I Ketut Suweca

TERVERIFIKASI

Dosen - Pencinta Dunia Literasi

Mengenal Konsep "Tri Hita Karana", Sumber Kebahagian Hidup Masyarakat Bali

Diperbarui: 27 Agustus 2020   03:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi (Unsplash/Ruben Hutabarat)

Apakah Anda pernah mendengar istilah Tri Hita Karana? Ini sebuah istilah yang cukup populer. Apakah sesungguhnya konsep Tri Hita Karana itu? Mengapa konsep hidup ini perlu dipertahankan? Lalu, bagaimana pula implementasinya dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Bali?

Mari kita bahas hal ini satu per satu. Akan tetapi, terlebih dahulu harus saya sampaikan apa yang saya tulis di sini sebatas pengetahuan dan pemahaman saya sebagai manusia Bali tentang hal yang satu ini.

Apakah Tri Hita Karana Itu?

Tri Hita Karana adalah sebuah istilah yang dibentuk dari tiga kata utama, yakni 'tri', 'hita', dan 'karana'. Tri artinya 'tiga', 'hita' maknanya 'kebahagiaan', dan 'karana' artinya 'penyebab'. Lalu jika digabungkan, maka Tri Hita Karana mengandung makna tiga penyebab kebahagiaan.

Apakah ketiga penyebab yang menjadi sumber kebahagiaan itu? Pertama, hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (parahyangan); kedua, hubungan harmonis antarsesama manusia (pawongan); dan ketiga, hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan (pelemahan). Ketiga hubungan itulah yang senantiasa diupayakan tetap terjaga agar tercipta kebahagiaan secara menyeluruh. Mari kita ikuti penjelasannya satu per satu.

Sembahyang adalah Wujudnya

Pertama, hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Hubungan manusia dengan pencipta-Nya menjadi hal yang mendasar yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Hubungan ini diterjemahkan ke dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak manusia Bali. Misalnya, dia dengan kesadaran sendiri melakukan persembahyangan. Sembahyang adalah bentuk sujud bhakti umat kepada Tuhan.

Melalui sembahyang manusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhan dipujanya. Tuhan menjadi 'tempat' manusia menunjukkan rasa baktinya yang tulus.

Tuhan juga menjadi 'tempat' manusia menumpahkan segala unek-unek dan keresahan hatinya. Tuhan menjadi 'tempat' kepada siapa dia menyampaikan puja dan puji syukurnya. Tuhan menjadi 'tempat' meminta pertolongan.

Sampai di sini, saya teringat dengan lirik lagu yang didendangkan penyanyi top Indonesia, Bimbo yang berjudul Tuhan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline