Lihat ke Halaman Asli

Djulianto Susantio

TERVERIFIKASI

Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Nostalgia Arkeologi, Menggelinding dari Puncak Gunung Penanggungan

Diperbarui: 23 Juli 2020   12:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berfoto di dekat puncak Gunung Penanggungan (Foto: Keluarga Mahasiswa Arkeologi)

Kata orang, masa-masa yang paling indah ketika bersekolah atau berkuliah. Pesta, buku, dan cinta, begitu orang menggambarkan. Mungkin ada benarnya.

Yang jelas, di masa kuliah saya banyak melakukan perjalanan. Bukan sembarang perjalanan karena ada istilah kerennya, kunsit atau kunjungan situs. Situs adalah tempat yang berkaitan dengan kepurbakalaan.

Dulu saat akhir pekan atau liburan, kami selalu berkunjung ke situs-situs arkeologi. Kalau akhir pekan, biasanya ke tempat-tempat yang dekat, misalnya Pulau Onrust dan sekitarnya di kepulauan Seribu, Jakarta. Yang agak jauhan ke situs Pangguyangan (Sukabumi), Baduy Lama (Banten), atau Cirebon. Biasanya kami berangkat Jumat sore dan kembali Minggu sore.

Di kala libur panjang, kami ke sekitaran Jawa Tengah dan Jawa Timur. Maklum, di daerah-daerah itu banyak terdapat kepurbakalaan, di antaranya candi. Bahkan kami pernah ke Sumatera lewat pelabuhan Merak.

Buletin Romantika Arkeologia masih distensil (Dokpri)

Menangani buletin

Di sela-sela kuliah, saya dan beberapa teman pernah menangani buletin mahasiswa Romantika Arkeologia. Norman Edwin menjadi perintis buletin ini pada 1978. Sebelumnya pada 1977 terbentuk organisasi mahasiswa Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) UI.

Setelah itu penerbitan buletin diteruskan oleh Berthold Sinaulan. Penerbitan RA, begitulah nama keren di kalangan mahasiswa, masih dalam tahap rintisan. Saya pun sempat membidani buletin RA pada 1982-1983.

Ketika itu buletin RA mendapat banyak pujian. Karena para mahasiswa 'tukang jalan', maka isinya pun tentang laporan perjalanan. Nah, karena sudah terbiasa menulis, akhirnya biaya perjalanan menjadi ringan. Kami membuat proposal kegiatan, lalu bekerja sama dengan media. Kami mendapat uang terlebih dulu. Sebagai imbalan, kami memberikan sejumlah tulisan untuk media tersebut.

Akhirnya, dari sekian banyak pengelola buletin RA, Norman Edwin, Berthold Sinaulan, dan saya berkarier sebagai jurnalis. Norman Edwin yang dikenal sebagai petualang, meninggal pada 1992 di puncak gunung Aconcagua, Argentina, kena badai salju. Ketika itu Norman berstatus wartawan Kompas.

Kenangan penggalian arkeologi di Candi Sewu, 1980 (Foto: Keluarga Mahasiswa Arkeologi)

Honorarium

Saat itu besarnya uang kuliah atau SPP di UI hanya Rp 15.000 per semester atau Rp 2.500 sebulan. Saat bersamaan, kalau mendapat honorarium tulisan di koran atau majalah, besarnya Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per tulisan. Dalam sebulan lumayan juga dapat honornya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline