Lihat ke Halaman Asli

Dewi Puspasari

TERVERIFIKASI

Penulis dan Konsultan TI

"13 Beaches", Tembang Lana del Rey yang Sinematik

Diperbarui: 23 Mei 2019   14:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku suka akan pantai yang sepi, apalagi sepi saat matahari terbit (dokpri)

Sejak berkenalan dengan tembang "Radio", aku jadi memerhatikan kiprah musisi eksentrik, Lana del Rey. Ia memiliki musik yang berbeda dengan musik kebanyakan saat ini. Musiknya bisa disebut musik cinematic yang terpengaruh musik-musik lawas tahun 1930-an. Lagu pada album "Lust for Life" yang masih sering kudengarkan berjudul "13 Beaches". Lagu ini membuatku terasa hangat tapi sekaligus merasa muram.

Lana del Rey terkenal akan lagu-lagunya yang sebagian besar terkesan gloomy. Memang ada pula lagu-lagunya yang indah dan bertemakan tentang cinta, seperti "Love" dan "Lust for Life", tapi menurutku lagu-lagunya yang balada lebih mengena berkat kemampuannya menciptakan nuansa dalam lagu tersebut dan gaya bernyanyinya yang temponya agak lambat. 

Lagu "13 Beaches" adalah lagu yang paling kusukai dalam album yang dirilis tahun 2017. Aku bisa mendengarnya berulang kali tanpa merasa bosan. Di sini keindahan vokal Lana tereksplorasi. Keunikan suaranya, emosi yang disampaikan lewat lagu ini, juga ketika ia menjangkau nada tinggi dengan jernih. Lagu ini juga sinematik,  merasa seolah-olah mendengar Lana bercerita, apa yang dikeluhkannya, dan emosinya saat itu lewat tembang ini.

Lana del Rey memiliki kharisma tersendiri dengan lagu-lagunya yang unik (dok. USA Today)

"13 Beaches" membuatku membayangkan akan sebuah pantai. Berlibur ke pantai saat musik panas ini rasanya begitu hangat namun juga terasa nyaman ketika telapak kaki bersentuhan dengan pasir pantai yang halus sebelum kemudian bermain dengan air laut  yang segar.

Tapi lagu ini berbeda. Lagu ini bercerita tentang pergi ke pantai dengan tujuan yang berbeda. Setelah 13 pantai akhirnya ia menemukan pantai yang sepi. Pantai yang seolah-olah miliknya. Pantai itu membuatnya merasa tenang. Ia tidak perlu bersolek, cukup mengenakan pakaian yang disukainya dan menjadi dirinya sendiri.

It took thirteen beaches to find one empty
But finally it's mine
With dripping peaches
I'm camera ready
Almost all the time

Sayangnya di tempat tersebut, ia tak berhasil menenangkan pikirannya.  Ia merasa kesepian dan hatinya merasa sakit oleh hubungan cinta-benci yang menjeratnya. Ia ingin benar-benar terbebas dari hubungan toksin tersebut. Ia berharap pantai ini bisa menyembuhkannya dan mengembalikannya ke kehidupan yang nyata, kembali ke jati dirinya.

But I still get lonely
And baby only then
Do I let myself recline?
Can I let go?
And let your memory dance
In the ballroom of my mind
Across the county line

It hurts to love you
But I still love you
It's just the way I feel
And I'd be lying
If I kept hiding
The fact that I can't deal
And that I've been dying
For something real
But I've been dying for something real


Lagu ini seperti puisi cinta yang sedih. Dalam pikiranku aku membayangkan sendiri di sebuah pantai yang indah, menanti saat-saat matahari tenggelam dengan indah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline