Lihat ke Halaman Asli

Dessy Yasmita

valar morghulis

Cerpen: Rahasia Bugenvil

Diperbarui: 19 Juni 2020   20:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sudah lama aku ingin pohon bugenvil itu ditebang. Selain sudah tua, seringkali mengotori dan menghalangi pandangan. Pohon ini sudah seumur hidupku ada. Bahkan, sudah ada sejak Ibu lahir. Jadi, mungkin saja pohon ini sudah ada sebelum rumah ini dibeli Kakek.

Sekarang aku yang akan tinggal di sini. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan uang, proyek renovasi harus berjalan. Rumah tua ini akan dibongkar hampir seluruhnya karena aku ingin rumah bergaya minimalis. Aku juga ingin memperbesarnya. Pohon itu harus ditebang agar ruang-ruang tambahan bisa dibangun.

Untuk itulah hari ini aku memanggil tukang. Pohon itu harus ditebang hari ini juga. Meski bukan orang yang sentimentil, kuakui banyak juga kenangan dengan pohon itu. Waktu aku kecil, pohon itu digantungi ayunan. Setelah dewasa tak ada lagi yang bermain di situ. Ibu membeli kursi dan meja kayu. Kadang dia sarapan di situ. Namun, pada akhirnya terbengkalai juga. Akhirnya, tak ada apa-apa selain beberapa pot kembang yang juga tak terurus.

Sewaktu kecil, Kakek sering bercerita kepadaku tentang pohon ini. Katanya ada peri-peri yang tinggal dan menjaga pohon itu. Itu sebabnya tanahnya harus dijaga tetap gembur. Pohon itu banyak menyimpan rahasia, kata Kakek. Tiap kali kutanya apa, dia hanya menjawab dengan meletakkan telunjuk di bibir. Aku tentu penasaran dengan peri-peri dan rahasianya. Namun, semakin aku besar, kusadari semua itu cerita belaka.

Nenek lebih dulu meninggal. Kakek meninggal ketika aku berusia sebelas tahun. Kenanganku tentang Kakek tidak terlalu banyak yang tertinggal. Mungkin karena sekarang aku hampir setengah abad. Aku ingat sejak Nenek tiada, Kakek rajin melukis. Ini bakat yang tak pernah dia ceritakan. Saat melukis, kadang dia bertanya tentang warna. Kadang, aku merasa Kakek memperlakukanku sebagai balita. Maksudku, pertanyaan soal warna lebih tepat ditanyakan pada anak kecil, kan? Tapi saat itu kujawab saja.

"Maaf, Bu." Tukang tebang menghampiriku. "Ada kotak di bawah pohon."

Aku jelas saja heran. Kotak apa? Aku pun pergi ke taman. Si tukang menunjuk ke sebuah lubang, dekat akar terbesar bugenvil. Kotak itu kotak kaleng kecil. Harta karun peri-peri?

Kuambil kotak itu, tetapi kubiarkan semalaman di ruang kerjaku. Entah mengapa aku tak ingin buru-buru. Penasaran itu bagus. Kukumpulkan rasa penasaran sebelum membukanya. Aku sudah yakin tidak mungkin ada barang berharga di sini. Namun, aku tetap terkejut melihat isinya. Sebuah kacamata, beberapa lembar surat, dan sebuah gelang kulit. Masing-masing berada dalam plastik yang disegel kuat oleh selotip.

+++

"Kamu tidak boleh mendekatinya lagi," kata Erna. "Ini peringatan terakhir!"

"Kenapa? Kenapa Kakak tidak pernah menjelaskan alasannya."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline