Lihat ke Halaman Asli

Dian Kusumawardani

Haloo, saya adalah seorang ibu rumah tangga profesional. Bekerja paruh waktu sebagai pengajar Sosiologi dan Sejarah di BKB Nurul Fikri. Juga suka menulis dan sudah menghasilkan 6 buku antologi dan 1 buku solo. Saya juga seorang konselor laktasi dan blogger.

Hari Peduli Sampah Nasional 2021: Saatnya Wujudkan Zero Waste Cities

Diperbarui: 21 Februari 2021   12:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hari Peduli Sampah Nasional 2021 | olahan pribadi

Hari ini, 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPS). Peringatan HPS ini dilakukan sejak tahun 2005 lalu. Saat itu terjadi ledakan di TPA Leuwigajah, Jawa Barat. Ledakan yang berasal dari gas metana dati tumpukan sampah. Ledakan tersebut membawa banyak korban. Dari bencana ini, kita semua belajar bahwa sampah bisa menjadi salah satu ancaman bencana yang nyata. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk mulai peduli dengan pengelolaan sampah ini.

Peringatan HPS ini menjadi sebuah momentum meningkat kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Tak hanya itu, pastinya peringatan ini bisa menjadi semangat bagi semua masyarakat untuk mulai melakukan aksi nyata dalam mengolah sampah.

Indonesia Darurat Sampah

Masalah sampah masih menjadi PR besar bagi Indonesia. Sampah di Indonesia belum bisa tertangani dengan baik. Bahkan setiap tahunnya, jumlahnya semakin bertambah.

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total sampah di Indonesia tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton.

Belum lagi jika membahas sampah plqstik. Di Indonesia, sampah plastik masih menjadi hal pelik yang belum bisa dipecahkan. Ini yang membuat Indonesia menjadi negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Pengelolaan sampah di Indonesia juga masih belum optimal  Indonesia diperkirakan menghasilkan 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Namun, merujuk data Sustainable Waste Indonesia (SWI) tahun 2017, dari angka tersebut baru 7 persen yang didaur ulang, sementara 69 persen di antaranya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Lebih parahnya lagi 24 persen sisanya dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan sehingga dikategorikan sebagai illegal dumping.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah menjadi kunci utama dalam menyelesaikan masalah persampahan ini. Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH), mengangkat tema "Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi". Mendorong munculnya pertumbuhan industri pengolahan sampah di tengah pandemi.

Tentunya sebelum bicara pengolahan sampah, kita perlu menengok kembali. Bagaimana pola pikir masyarakat Indonesia terhadap sampah? Apakah pola pikir tersebut sudah sesuai untuk menumbuhkan pengolahan sampah yang mendorong tumbuhnya industri pengolahan sampah?

Sampahmu Tanggung Jawabmu!

Selama ini, pola pikir masyarakat soal sampah hanya terbatas pada membuang sampah pada tempatnya. Meski tidak salah, pemikiran seperti ini belum membuat pengolahan sampah menjadi optimal. Membuang sampah pada tempatnya itu sama dengannya menyelesaikan masalah dengan masalah. Bersih di tempat kita, masalah di tempat lain : TPA.

Sampah-sampah yang berasal dari rumah tangga dan industri menumpuk di TPA. TPA sendiri masih banyak yang belum optimal dalam mengolah sampah. Ledakan di TPA Leuwigajah menjadi bukti, sampah yang tidak diolah bisa menjadi bencana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline