Lihat ke Halaman Asli

Deddy Husein Suryanto

TERVERIFIKASI

Content Writer

Karel Abraham dan Privilese karena Uang

Diperbarui: 25 November 2019   20:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karel Abraham hanya pernah naik podium dua kali di kelas Moto2, namun mampu naik kelas ke MotoGP. (Lazone.id)

Meski namanya tak setenar Jorge Lorenzo, Marc Marquez, apalagi Valentino Rossi, Karel Abraham tetap dikenal sebagai pembalap MotoGP. Bahkan kiprahnya di kelas tertinggi juga tak sebentar. Terbukti ketika dirinya sempat hengkang ke World Superbike, dia kembali ke kelas MotoGP dan terlihat mudah untuk mendapatkan tim.

Selama karirnya, pembalap asal Ceko itu tidak memiliki kesempatan untuk membela tim besar seperti Repsol Honda, Yamaha Factory, apalagi Ducati Corse. Bahkan untuk memperkuat tim satelit utama di tiap pabrikan juga tidak pernah.

Memang, Karel bisa dikatakan memiliki jam terbang cukup dalam menjajal motor yang berkualitas, seperti Ducati yang dikenal kencang di trek lurus. Namun, di sana dia tidak pernah mendapatkan motor yang spesifikasinya sama dengan tim pabrikan. Bahkan motor yang digunakan biasanya berada di level ketiga seperti yang digunakan bersama Aspar Ducati. Hal ini juga terjadi ketika dirinya memperkuat Reale Avintia Racing (di bawah Ducati dan Pramac).

Uniknya, livery motor yang digunakan selalu identik dengan warna putih-biru, seperti saat memperkuat Cardion AB Motor Racing. Namun secara performa di lintasan, Karel terlihat tidak pernah mampu menunjukkan perlawanan yang berarti dengan pembalap-pembalap lain.

Ada beberapa faktor yang dapat melandasi hal ini. Pertama, motor yang digunakan biasanya menggunakan spesifikasi lama. Bisa setahun atau dua tahun di belakang dari spesifikasi motor pabrikan. Sehingga, secara kecepatan motor ini tidak banyak berbicara. Kecuali ada motor dan pembalap lain yang masih kesulitan dengan motornya, maka Karel dan Avintia dapat mendahului mereka.

Faktor kedua, ada indikasi bahwa di tim yang dibela tidak memiliki target tinggi. Mereka hanya ingin berpartisipasi tanpa berupaya memperoleh sesuatu (baca: poin). Sehingga, torehan Karel dan tim yang dibelanya seringkali tak maksimal.

Faktor ketiga sebenarnya menjadi indikasi bahwa faktor inilah yang membuat faktor pertama dan kedua dapat terjadi. Yaitu privilege. Hak istimewa yang terlihat terjadi pada Karel Abraham dikarenakan dirinya merupakan anak pengusaha kaya sekaligus pemilik sirkuit Brno Ceko. Akibatnya, tim tidak memiliki motivasi besar untuk mendorong Karel harus menunjukkan upgrading terhadap kualitas balapnya.

Privilege ini membuat Karel seperti di zona nyaman. Tidak ada tekanan, apalagi jika berbicara soal uang. Siapa yang bersedia membayar kursi di paddock jika tujuan para pembalap saat ini adalah untuk membuktikan kualitas di lintasan dan mencari pendapatan?

Musim 2019 ternyata menjadi musim terakhir Karel Abraham di MotoGP. (MotoGP.com)

Itulah yang menjadi pembeda bagi Karel sekaligus membuatnya selalu aman ketika setiap tim yang berkompetisi di MotoGP harus riuh bongkar-pasang pembalap. Sedangkan timnya atau dirinya selalu mampu menggaransi satu tempat dan tidak mempermasalahkan tim dan apa spesifikasi motornya.

Situasi ini sebenarnya juga diduga terjadi pada Tito Rabat. Rekan setimnya itu juga merupakan pay rider di MotoGP selain dirinya. Dia dapat memperoleh kursi di Avintia juga tak lepas dari kekuatan privilege.

Meski awalnya sempat membela tim ketiga Honda (Marc VDS), Rabat akhirnya memutuskan untuk setim dengan Karel di Avintia Racing. Namun, nasibnya terlihat lebih baik. Terbukti dirinya saat ini masih dipertahankan oleh timnya ketika Karel harus terdepak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline