Lihat ke Halaman Asli

Dean Ruwayari

TERVERIFIKASI

Geopolitics Enthusiast

Rencana "Poros" AS ke Indo-Pasifik

Diperbarui: 3 Oktober 2022   22:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden, berpidato didampingi wakil presiden terpilih, Kamala Harris, Senin (9/11/2020), di Queen Theater Delaware, AS.  (Sumber: AP PHOTO/CAROLYN KASTER via Kompas.id)

Sejak kepresidenan Barack Obama, Amerika Serikat berencana membentuk satu poros spesifik di mana AS akan beralih dari Asia Barat ke indo-pasifik.

Pada bulan November 2012, hanya berselang 10 hari setelah terpilih kembali untuk masa jabatan kedua, Presiden AS Barack Obama naik Air Force One menuju ke Yangon, Myanmar. 

Pemulihan dan normalisasi hubungan antara Amerika Serikat dan negara yang dulunya paria, Myanmar (sebelumnya dikenal sebagai Burma), meningkat pesat di bagian akhir masa jabatan pertama Obama. 

Amerika Serikat berusaha untuk melawan pengaruh China yang semakin besar atas negara Asia Tenggara yang berlokasi strategis dan ramah sumber daya dan untuk mempercepat visi baru yang berani untuk seluruh kawasan Indo-pasifik. 

Keterlibatan dengan Myanmar hanyalah bagian kecil dari apa yang disebut Obama dan tim kebijakan luar negerinya sebagai "poros" strategis ke Asia.

Tapi ternyata lebih mudah diumumkan daripada dieksekusi. Karena sampai sekarang poros AS mengalami berbagai kendala. Perang di Ukraina hanyalah salah satu contoh terbaru. 

Joe Biden masih menjadi wakil presiden saat  poros tersebut diumumkan. Kini sebagai presiden Biden berharap untuk melangkah lebih jauh. Hari ini AS menjadi tuan rumah KTT pertama antara AS dan pemimpin kepulauan Pasifik.

Pasifik merupakan lautan terbesar di dunia yang mencakup hampir sepertiga Bumi dan merupakan rumah bagi 16 negara kepulauan. Negara-negara ini merupakan kunci dalam konflik yang meningkat antara AS dan China.

Amerika Serikat telah mendominasi Pasifik sejak Perang Dunia II. Meskipun pembuat kebijakan AS tidak pernah terlibat langsung dengan negara-negara Pasifik. Mereka outsourcing pekerjaan tersebut ke sekutu mereka Australia.

Tetapi sekarang situasinya telah berubah. China mengincar pengaruh strategis di Samudra Pasifik. Beijing mempersenjatai ekonomi China yang kaya yaitu dengan meminjamkan uang ke negara kepulauan.  China juga sedang gencar-gencarnya berusaha mengadakan perjanjian militer dengan pemerintah negara-negara kepulauan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline