Lihat ke Halaman Asli

Dasilva ari

Sebab kita sering lupa, maka menulis adalah kunci

Bandung dan Sekelumit Pelajaran yang Tak Terbendung

Diperbarui: 26 Maret 2022   17:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bandung. Sumber ilustrasi: via KOMPAS.com/Rio Kuswandi

Sejak dulu Saya selalu menganggap hidup sebagai sebuah road trip dengan Saya sebagai supir mobilnya. Saya tidak tahu akan tiba di mana, yang pasti  adalah Saya ingin pergi ke tempat-tempat yang indah. Saat hari kemudian berganti hari, Saya pun mencoba merefleksikan kembali pemandangan lama dan baru yang telah Saya lihat, serta teman lama dan baru yang telah Saya temui. Hingga kemudian berfikir : "Sudah Sampai Mana Perjalanan Ini?"

Saya memang bukan orang yang Photo-addict ketika dalam perjalanan. Sebab Saya bukan orang yang Photogenic. Selain itu, bagi Saya, memori dan lensa terbaik adalah mata dan otak, sebab jika kita tidak bisa menangkap dengan baik setiap pemandangan di dalam perjalanan dan meresapi setiap memori yang terjadi, maka ada yang salah dengan mata dan otak kita.

Manusia adalah makhluk unik-yang terbentuk dari pengalaman dan perjalanan hidupnya sendiri. Arah angin membawa Saya mengunjungi kota bandung bersama bapak/ibu pensiunan purna bakti kota pasuruan. Pengalaman kemarin sagat berkesan, selain Saya diberi kesempatan untuk mengunjungi kota impian, Saya juga bertemu dengan ragam manusia baru yang dari mereka bisa Saya ambil pelajaran dalam setiap perjalanan.

Di hari pertama, bahkan ketika perjalanan belum di mulai. Pelajaran pertama mengenai semangat dan kerja keras Saya dapat dari Bu Dewi, pemilik agen travel sekaligus orang yang merencanakan perjalanan ini. Beliau ini nenek-nenek, usianya 69 tahun, dengan berbagai riwayat penyakit usia senja. Perencanaan wisata hingga berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, dia lakoni sendiri. Bukan hal mudah But, yes, she did it! Bahkan dia mengikuti dan memantau langsung rangkaian kegiatan di lapangan.

Apa yang dilakukan bu dewi adalah contoh nyata bagi Saya, bahwa usia senja, dan kekurangan fisik lainnya, bukan alasan berhenti menjalani hidup dan mencari penghidupan. Menampar Saya dan mungkin kita, yang masih muda muda namun berpikir untuk hidup santai dan bermimpi soal finacial freedome. nanti dulu! Ada bu dewi yang di usia senja masih semangat dan kerja keras dalam melakoni pekerjaannya.

Di hari kedua, pelajaran tentang cara kerja yang professional Saya dapat dari Teh Paula. Teh Paula adalah tour guide, single mom dan perokok berat. Sebagai perokok berat, untuk menahan rokok berjam-jam adalah hal paling menyiksa. Namun dalam rangkaian perjalanan kemarin, Teh Paula sangat menahan perasaan ingin merokok demi menciptakan kesan baik kepada tamu. Meskipun pada akhirnya setiap malam Saya harus menemaninya "Balas dendam" menghabiskan setengah  pack rokok miliknya.

Kepentingan tamu diatas segalanya, prinsip yang selalu di pegang Teh Paula dalam menjalani pekerjaanya, contoh nyata kerja professional di bidang penyedia jasa. Teh Paula menjadi devils advocate ketika tamu complain kepada pelayanan restoran tempat kita makan. Meskipun ternyata diketahui yang salah adalah dari pihak tamu, namun makian tetap diberikan kepada pelayan tersebut, dan menolak untuk disalahkan pihak restoran

Saya juga ingat hari pertama ketika tamu minta untuk dibuatkan Banner untuk foto bersama. Waktu itu sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan tamu tersebut saat itu juga, sedangkan agenda di hari itu selesai pukul 10 malam. Tanpa fa fi fu, dia mengajakku keliling setengah kota Bandung  untuk mencari percetakan yang buka. Padahal malam itu Bandung sedang PPKM ketat dimana setiap tempat usaha wajib tutup jam 9. Dengan  telaten Teh Paula menyusuri dan mencari percetakan mana yang masih "nekat buka di jam 10 malam". Di dalam mobil Saya lihat dia masih menggunakan pakaian yang sama dengan yang digunakan sejak pagi, spontan ku tanya "Teteh belum mandi?", "Belum" katanya sambil tertawa kecil. "nanti aja, makan juga nanti aja, silva. Yang penting besok ada banner yang orang-orang minta"

Selama perjalanan Teh Paula juga mengeluh dengan kinerja driver Bus yang dinilainya sama sekali tidak professional. Dia melihat sang sopir setiap saat selalu melSayakan Video Call dengan istrinya yang jauh disana, katanya "daripada si sopir VC terus sama istrinya, Mending HP dibuat untuk baca peta, jadi kita gak kesusahan cari jalan", Saya mengangguk setuju, "Saya ini single mom, anak ku titipkan sana-sini pas Saya kerja, tapi apa kamu pernah lihat Saya VC sama anak pas kerja? Dasar si sopir aja pengantin baru" tambahnya. Saya pun semakin mengangguk dan berpikir, she did best things for her job.

Orang tua diatas segalanya, bahkan pekerjaan, Saya dapat dari Mas Adi, yang saat itu juga ikut bersama ku menjadi Tour Leader dalam perjalanan ini. Kebetulan sekali orang tuannya ikut dalam rombongan wisata, bukan bermaksud mengesampingkan tamu yang lain, tapi menurutnya, selesaikan dulu urusan orang tua, baru yang lain. Ketika ada orang lain butuh bantuanmu, dan orang tua mu membutuhkan hal yang sama, maka yang harus di dahulukan adalah orang tua. Seperti saat diminta membawa oleh-oleh, mas adi selalu mendahulukan orang tuanya, baru kemudian membantu orang lain. Apa yang dilakukan mas Adi membuat menampar ku, yang ketika saat bekerja sering  lupa dengan kondisi rumah dan keadaan orang tua.

Pelajaran hidup lainya, banyak ku dapat dari peserta wisata yang hampir semua adalah lansia. Pelajaran yang kudapat bukan dari nasehat atau wejangan yang mereka berikan, namun dari contoh nyata yang ku lihat langsung saat berwisata bersama mereka. bagaimana mereka memaknai kebahagiaan di hari tua, saling asah-asuh antar sesama lansia, tidak banyak mengeluh serta banyak lagi pelajaran  yang tersirat selama perjalanan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline