Lihat ke Halaman Asli

Lelucon Tuhan : Mono-Idolatry

Diperbarui: 9 April 2016   11:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Apabila kita salah memahami tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, maka akan dapat menjadi musibah bagi kemanusiaan.."][/caption]Hari menjelang senja, mendung dan hujan rintik-rintik. Kotbah itu begitu indah, damai, sejuk dan memberikan penghiburan hati yang penat. Aku sungguh merasakan kehadiran Tuhan di dalam acara persembahyangan itu. Sehingga manakala waktu doa bersama pun kuturut memejamkan mata hening sembari mengikuti doa yang dibawakan oleh pemuka agama itu. Hanyut dalam kesyahduan dan kekhidmatan doa-doa yang dilantunkan.

Tiba-tiba kutertegun..........mengapa orang-orang yang hatinya tersentuh oleh kehadiran Tuhan ini manakala beranjak keluar dari tempat ibadah......
..ketika hendak membagikan kasih kepada sesamanya, yang terjadi adalah perpecahan?
.. ketika hendak mengulurkan tangan pertolongan, yang terasa adalah kesombongan?
.. ketika hendak mewartakan kebenaran yang terasa adalah penghakiman?
.. ketika tersenyum ramah dan bicara teratur penuh santun, yang terbayang adalah kebusukan?
What the hell are these phenomena!!?

Apakah diriku sedang memainkan "victim play" terhadap mereka? Kutilik dan teliti setiap renung hati dan pikiranku. Kuputar ulang kembali rekaman-rekaman dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi pada diriku maupun pada teman dan kenalan yang lain, "Tuhan.....jelaskanlah pada diriku, apa arti dari semua ini? Mengapa mereka yang menyembahMu menjadi sumber konflik di luaran?"

Kata "menyembah" itu tiba-tiba menjadi sebuah pemantik api pengetahuan yang segera menjalar menerangi ruang pengertianku. Ya, ada yang salah dengan persoalan "menyembah" ini!
"Lho kok salah? Apanya yang salah dengan menyembah Tuhan Allah yang Maha Tunggal? Bukankah itu yang dikehendakiNya?"

Tunggu dulu..... Marilah kita teliti dan pelajari lagi kisah perjalanan sejarah bangsa Israel yang senyatanya dari hasil penelitian arkeologis dan sejarah obyektif dan bandingkan dengan apa yang tertera di dalam Alkitab.

Para ahli sejarah memastikan bahwa bangsa Israel tidaklah berbeda dengan suku Canaanite (bangsa Kanaan), hanya saja dalam proses sejarahnya memisahkan diri dan membentuk identitas sendiri sebagai Israelite. Hal yang memicu hal itu adalah karena pada masa itu marak praktek manipulasi keagamaan dengan mengatas namakan dewa-dewa melalui praktek-praktek ketahayulan yang menindas dan memperalat rakyat. Rakyat dibuat menjadi ketergantungan sehingga diperalat oleh suatu struktur keimaman yang memanfaatkan kebodohan dan ketakutan massa yang ditanamkan oleh ajaran-ajarannya. Pemeralatan rakyat ini bukan saja memecah belah antara keluarga dengan keluarga, tetapi juga untuk alat mengompori agar berperang melawan bangsa-bangsa lain. Walhasil, wilayah di sekitar itu tidak pernah damai. Selalu berperang atas nama dewa-dewa masing-masing.

Bangsa Israel adalah bangsa yang pertama kali menyadari hal ini karena wilayahnya selalu menjadi bulan-bulanan antara 2 kekuatan kerajaan besar di selatan yaitu Mesir dan di utara yaitu Assyria. Tak bisa dipungkiri juga bahwa suku-suku di wilayah Yudea juga sulit bersatu karena terpecah-pecah oleh keyakinan dewa-dewa suku masing-masing. Oleh karena itu, mereka terdesak untuk mengambil suatu sikap menyatukan suku-suku bangsa di wilayah Yudea dan membentuk identitas baru melalui pandangan spiritualitasnya yang bersifat Henotheistic (Dewa Tunggal), yang melalui suatu proses kontemplasi dan perkembangan kemajuan spiritualitasnya menjadi apa yang disebut Monotheistik, yaitu pemahaman menuju konsep Ketuhanan yang lebih abstrak sebagai "Tuhan segala bangsa" (Mazmur 117 : 1). Jelas terlihat misi utamanya yaitu untuk menyatukan bangsa-bangsa agar tidak lagi saling berperang atas nama dewa-dewanya masing-masing.

Faktor ketiga, adalah sifat / karakteristik utama dari penyembahan dewa-dewa itu, yaitu adalah memanjakan ego dan bertujuan untuk memuaskan egoisme dari para pemujanya. Dewa-dewanya diciptakan berdasarkan kebutuhan nafsu-nafsu duniawinya. Oleh karena itu, bangsa Israel melakukan kritik keras dan pengajaran yang berlawanan arah dengan hal ini, yaitu : mengajarkan bagaimana hidup sebagai manusia yang melawan tendensi egoismenya untuk sadar akan makna kebersamaan dan persatuan (Unity / Echad : Adonai Echad). Oleh karena itu, Tuhan dalam konsepsi pemikiran Monotheisme ini adalah Tuhan yang melampaui keinginan / kepentingan dan nafsu-nafsu duniawi, dimana hal ini secara teknis diistilahkan sebagai Tuhan yang transenden (Adonai) tetapi tidak meninggalkan (menelantarkan) manusia....dalam artian ada kehadiranNya dalam setiap relung kehidupan mahluk di bumi. Inilah konsep imanensi (Eloheinu) yang tiada lain adalah manifestasinya dalam alam semesta, sehingga gabungan antara yang transenden dan imanen tersebut terumuskan dalam kalimat syahadat : "Adonai Eloheinu" (YHVH - Elohim).

Saya ringkas dan sorot kembali tiga faktor gugatan terhadap penyembahan dewa-dewa / berhala seperti dijabarkan di atas :
- pemeralatan / penindasan rakyat
- pemecahbelahan / penghasutan konflik
- pemupukan egoisme

Maka sebaliknya, dalam konsep bangsa Israel, maka Tuhan adalah dalam posisi sebaliknya :
- membebaskan manusia
- menyatukan manusia
- melawan egoisme

IRONIS KENYATAAN PERKEMBANGAN SEJARAH

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline