Lihat ke Halaman Asli

Dani Ramdani

TERVERIFIKASI

Ordinary people

Gedung Indonesia Menggugat, Saksi Bisu Soekarno Menentang Kolonialisme

Diperbarui: 3 Agustus 2021   20:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gedung Indonesia Menggugat via jabarprov.go.id

Jika Anda pergi ke Bandung, tidak jauh dari Balai Kota, terdapat satu bangunan yang mengandung nilai sejarah. Gedung tersebut dulunya merupakan Landraad, atau pengadilan pada masa kolonialisme Belanda.

Bapak pendiri bangsa Indonesia yaitu Soekarno pernah diadili di gedung tersebut. Ketika kuliah di Bandung, Bung Karno fokus pada perjuangannya demi Indonesia meraih cita-cita kemerdekaan.

Di Bandung pula, Soekarno menemukan satu gagasan yang disebut dengan marhaenisme. Marhaen terinspirasi dari petani asal Sunda yang bernama Kang Aen.

Rakyat Marhaen adalah mereka yang bekerja untuk dirinya sendiri. Hasil dari pekerjaan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Alat produksi memang punya sendiri, tetapi tidak sanggup jika harus membayar upah pada orang lain.

Marhaen sendiri merupakan paham sosialisme yang disesuaikan dengan kultur Indonesia. Di Bandung pula, Soekarno mendirikan partai politik yang menjadi kendaraan berjuangnya yaitu PNI.

Berasama denga PNI, Bung Karno sering melakukan rapat guna merancang strategi melawan kolonialisme. Tidak ada yang menyangkal dengan kepiawaian Bung Karno saat pidato.

Tidak heran jika Bung Karno disebut dengan singa podium. Ketika Bung Karno berpidato, semuanya khusyuk mendengar dan membuat jiwa nasionalisme terbakar.

Kemampuan tersebut mampu mengumpulkan beribu-ribu orang dalam satu lapangan. Namun, bagi pihak Belanda sendiri, Soekarno merupakan ancaman. Maka tidak heran gerak geriknya selalu diawasi.

Setiap kali Soekarno berpidato, pastilah ada beberapa polisi yang mengawasinya. Para polisi tersebut dengan teliti mencatat pidato Bung Karno. Diceritakan, ketika itu Bung Karno hendak pulang dan naik sepeda, tetapi dibuntuti oleh polisi.

Menurut Bung Karno, ini adalah hiburan baginya. Bung Karno lantas membawa polisi tersebut ke jalan sempit di sawah. Sang polisi tersebut tidak bisa meninggalkan sepeda tanpa ada yang menjaganya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline