Lihat ke Halaman Asli

Damanhuri Ahmad

Bekerja dan beramal

"Membantai Adat", Warisan Tradisi Lebaran di Tengah Masyarakat

Diperbarui: 13 Mei 2021   20:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pembagian daging bantai adat di Tembok, Nagari Sintuak, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis. Di Surau Tembok Shalat Id-nya rencana Jumat. (foto dok wag korong tembok)

Kebanyakan orang kampung merasakan enaknya daging yang kerbaunya disembelih di surau. Tak heran, menyembelih kerbau jelang lebaran Idul Fitri sudah jadi tradisi oleh sebagian besar masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Di Tembok, Nagari Sintuak lazim menyembelih seekor kerbau tiap tahun. Mereka membantai namanya, itu sehari jelang lebaran.

Seluruh kepala keluarga yang ada di korong beriur untuk bisa membeli seekor kerbau. Iurannya bervariasi. Tergantung banyaknya kebutuhan daging satu keluarga itu saat lebaran.

Saat puasa, pengurus surau telah menaksir harga kerbau, dan menentukan jumlah umpuk atau onggok. Seonggok daging dihargai Rp130 ribu. Seonggok itu beratnya sekilo lebih.

Masing-masing keluarga ada yang mengambil tiga, empat atau dua onggok saja. Kerbau itu didatangkan pas saat akan disembelih, setelah dibeli pada pakan terakhir puasa di pasar ternak yang ada di nagari terdekat.

Lain korong lain pula cara membantai adatnya. Kalau korongnya besar, banyak pula penduduk bisa jadi dua sampai tiga ekor kerbau yang disembelihnya.

Seperti yang berlaku di Nagari Ulakan. Di situ membantai setelah selesai Shalat Id. Pengurus surau langsung membawa kerbau atau sapi yang akan disembelih itu ke satu tempat, namanya tanah pakudoan di Kampuang Galapuang. Di sana seluruh surau melakukan penyembelihan yang disebut dengan membantai adat tersebut.

Yang menyembelih langsung orang Siak, seperti tuanku, labai, atau imam khatib yang ada dalam korong terkait.

Saat membantai adat itu tanah pakudoan Kampuang Galapuang laksana pasar rakyat. Ramai. Banyak orang menggelar dagangan di sepanjang jalan menuju lokasi dan di lokasi tanah pakudoan itu sendiri.

Tanak pakudoan itu adalah gawenya niniak mamak atau raja yang ada di seluruh ulayat Ulakan. Para niniak mamak inilah yang menentukan, berapa uang adat yang harus dikeluarkan untuk seekor kerbau.

Kerbau yang disembelih itu dikerjakan secara bersama-sama. Atau beberapa orang saja, dengan cara yang mengerjakan dapat bagian onggok sebagai hadiah jerih payahnya bekerja.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline