Lihat ke Halaman Asli

Chuang Bali

Orang Biasa yang Bercita-cita Luar Biasa

Buddhisme Itu Top Banget!

Diperbarui: 24 April 2022   06:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Pada waktu-waktu tertentu, sudah sekitar setahunan saya memiliki kebiasaan untuk merenungkan dan menguncarkan dalam hati "doa" berikut ini:

Aku bersyukur karena terlahir sebagai manusia,

Bahwa Buddha bersedia hadir dan mengajarkan Dhamma di dunia,

Dan karena aku memiliki kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan Dhamma.

"Doa" itu meringkas hal-hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya. Buddha dan ajaran-Nya telah mengubah cara pandang saya atas dunia, dan saya tak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan hidup saya andaikata saya tak mengenal Buddhisme. Sebab dalam Buddhisme-lah saya menemukan apa yang tak ada dalam ajaran-ajaran lainnya: Buddhisme itu unik sendiri dalam banyak aspeknya.

Pertama, melalui Kalama Sutta dan semangat Ehipassiko, sejauh yang saya ketahui, Buddha adalah satu-satunya pendiri agama yang menyatakan dengan terus terang kepada para pengikut-Nya untuk tidak mempercayai bahkan sabda Buddha sendiri, sebelum para pengikut membuktikan sendiri kebenarannya. 

Di dunia di mana banyak manusia menjadi "budak" intelektual maupun spiritual dari para pemimpin agama, Buddha memberikan kebebasan berpikir dan memilih kepada para pengikut-Nya untuk menentukan sendiri apa yang akan mereka percayai dan yakini.

Kedua, dalam Buddhisme tujuan tertinggi yang harus diraih oleh setiap Buddhis bukanlah kehidupan surgawi dengan segala kenikmatannya. Melainkan, Buddha mengajarkan sebuah jalan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi yang disebut Nibbana. 

Di dunia di mana banyak ajaran mengiming-iming pahala surgawi kepada para pengikutnya yang taat dan saleh menurut kriteria tertentu, Buddhisme mengajarkan jalan untuk benar-benar terbebas dari segala macam hasrat, termasuk hasrat akan kenikmatan surgawi. 

Dalam Buddhisme, surga hanyalah semacam tempat persinggahan atau tempat berlibur untuk santai sejenak melepas "kepenatan" dalam mengarungi samsara, dan itu berarti surga tidaklah kekal dan dalam surga masih ada derita (karena di mana pun ada hasrat, di sana ada derita).

Ketiga, Buddhisme tidak mengenal konsep ketuhanan apa pun, termasuk apa yang disebut dengan istilah tuhan impersonal. Dengan begitu, Buddhisme menolak mempercayai adanya suatu makhluk adikodrati yang memiliki sifat-sifat serba maha: mahapencipta, mahakuasa, mahatahu, mahapengasih, dan seterusnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline